Balada Dua Bayang
Balada Dua Bayang (Langit senja terbakar lembut. Ombak berbicara pada pasir. Dua bayang bersua di tepi waktu.) --- Lelaki: Aku datang lagi… ke tempat di mana waktu pernah berhenti karena senyummu. Lihatlah, pasirnya masih mengingat langkah kecilmu, dan laut masih memanggil namamu dengan nada yang sama. Berapa musim sudah lewat? Aku tak menghitung. Yang kutahu hanya satu — rinduku tak mengenal kalender. Ia tetap muda, walau aku sudah menua dalam menunggu. Aku hidup di antara angin dan doa, mencari suaramu di balik sunyi, dan setiap malam, aku bicara pada bintang, seolah mereka tahu caramu menyebut namaku dengan lembut. --- Perempuan: Dan aku mendengarmu dari jauh. Rindumu menembus jarak seperti cahaya dari masa lalu. Aku sering menatap laut yang sama — yang dulu menyaksikan tawa kita sebelum waktu memisahkan. Aku ingin memelukmu, namun pelukan kini hanyalah bayangan di udara. Aku ingin bicara denganmu, namun kata-kata sudah menjadi debu di lidah malam. Kau tahu, aku pernah menanam ...