Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 8, 2025

(Karena Dunia Tak Butuh Dewa Kata)

(Karena Dunia Tak Butuh Dewa Kata) Wahai penulis, penyembah gaya, Yang mabuk oleh eufoni dan frasa, Kau pikir dirimu nabi sastra, Padahal hanya tukang pamer celoteh belaka. Kau lempar diksi bagai mantra suci, Padahal isinya kosong, hampa, basi. Kau kira kata-kata bisa menebus langit, Nyatanya, cuma jadi status pretensius di koran berita pagi yang sepi. Kau penuhi panggung dengan wajah megah, Tapi makna lari dari setiap paragrafmu yang pongah. Sajakmu berisi cermin yang retak, Memantulkan bayangan ego yang menumpuk pekat. Betapa kau senang dipanggil "maestro", Tapi tak tahan dikritik satu pun dari bawah. Kau bicara tentang luka dan manusia, Padahal yang kau sembah cuma tepuk tangan dan pujian murahan semata. Engkau mencibir pembaca awam, "Tak mengerti seni!" katamu sok dalam. Tapi adakah seni dalam keangkuhan? Atau kau hanya pengecut dengan kosakata kebesaran? Buku-bukumu penuh blurb yang palsu, Kata pengantar ditulis teman sekomplot, Biar tampak penting, biar tampak...

DARI AKU KEPADA AKU

Wahai diri, engkau adalah perahu kecil yang sering oleng di tengah samudra gelisah. Kadang angin tak bersahabat, ombak datang menggertak, namun jangan lupa: pelaut tangguh lahir dari badai yang tak ia hindari. Lelahmu bukan musuh, melainkan bisikan lembut semesta yang ingin kau jeda, agar tak hilang arah. Luka-luka di kakimu bukan cacat, tapi peta perjalanan—tanda bahwa kau telah melangkah, bukan diam dalam angan. Jangan terlalu sering mengintip ladang tetangga, sebab pelangi di sana belum tentu tanpa hujan. Ingat, setiap jiwa menanggung salibnya sendiri, dan tak semua tangis terdengar oleh dunia. Lambat bukan berarti tertinggal, seperti bulan yang tetap anggun meski ia tak pernah terburu. Teruslah berjalan, meski langkahmu tak seirama dunia, sebab arah lebih penting dari kecepatan. Simpan marahmu di kantong dalam, biarkan ia menjadi bara yang menghangatkan tekad, bukan membakar akal. Dan jika kecewa mengetuk, sambut ia dengan secangkir kesabaran, katakan: “Aku tak mengusirmu, tap...

Waktu yang salah

Cinta ini datang seperti hujan di musim kemarau—tak pada waktunya, namun tak bisa kuhindari membasahi jiwa yang kering. Aku mencintaimu dalam waktu yang salah, ketika hatimu sudah terikat pada lain, dan aku hanyalah bayang yang berdansa di tepian kisahmu. Seperti bintang yang bersinar di langit pagi, cahayaku tak pernah cukup terang untuk menembus gelap hatimu yang telah kau bagi pada orang lain. Aku adalah senja yang datang terlambat, hanya mampu menyisakan rona merah yang fana sebelum malam menelan segala. Waktu berjalan tanpa kompromi. Ia membawamu pergi dalam pelukan yang bukan untukku, sementara aku terjebak dalam lingkaran waktu yang patah, mencintai seseorang yang tak bisa kugenggam. Seperti kapal yang berlabuh di pelabuhan yang salah, aku terdampar dalam laut perasaan yang tak bertepi, menunggu ombak yang tak pernah membawa kabar. Rasanya seperti musim yang terbalik—ketika bunga bermekaran di musim dingin, dan daun gugur di musim semi. Aku mencintaimu dengan cara yang tak s...

Sepucuk Surat yang Tak Pernah Kukirim

Kepada Nona, yang namanya melayang di antara helai daun yang gugur, dan menari dalam angin pagi yang tak pernah kuraih. Hatiku ini bagaikan kapal kecil yang terombang-ambing di lautan rindumu, namun tak pernah berani berlabuh di pelabuhan hatimu. Aku mencintaimu seperti bulan mencintai malam—tak pernah meminta untuk menjadi terang, hanya setia menemani dalam hening dan kesunyian. Rasa ini hadir seperti embun pagi yang jatuh perlahan di daun-daun kering, menyegarkan tanpa suara, namun cukup untuk membuat hati ini tetap basah oleh harapan yang tak pernah bisa kurengkuh. Aku menyayangimu seperti bayang-bayang yang mengikuti langkahmu tanpa pernah menyentuhmu, tanpa pernah membuatmu sadar akan kehadiranku. Aku tahu, kau telah menjadi milik seseorang lain, seperti bunga yang dipetik dan dimiliki oleh tangan yang lain. Aku tak hendak menjadi duri yang mengganggu keindahanmu, hanya ingin menjadi angin sepoi yang diam-diam membelai rambutmu dari jauh. Karena mencintai bukan tentang memiliki, t...

"Ikhlas Adalah Bagian Jatuhku"

--- "Ikhlas Adalah Bagian Jatuhku" Aku pernah berdiri begitu tinggi, dengan dada penuh keyakinan bahwa yang aku genggam tidak akan pernah lepas. Bahwa yang aku perjuangkan akan tetap tinggal. Bahwa cinta yang kupeluk erat, akan memilih menetap dan tidak berpaling. Tapi kenyataan, seperti biasa, punya caranya sendiri untuk membongkar segala yang kita kira pasti. Dan di sanalah aku jatuh. Perlahan, tapi pasti. Tak terjerembab sekaligus, tapi retak demi retak—cukup untuk membuatku diam dalam waktu yang panjang, mempertanyakan: apa salahku? Dulu aku pikir jatuh adalah akhir. Aku benci rasa sesak di dada, benci pertanyaan yang tak dijawab, benci ketidakpastian yang dibiarkan membusuk dalam pikiran. Tapi setelah aku lelah menangis, lelah marah, lelah berharap... aku mulai belajar sesuatu yang tak pernah diajarkan dunia secara langsung: ikhlas. Ikhlas itu tak datang seperti hujan yang bisa kau rasakan dengan cepat. Ia datang pelan, dalam bentuk kesadaran kecil bahwa aku tak bisa men...