(Karena Dunia Tak Butuh Dewa Kata)
(Karena Dunia Tak Butuh Dewa Kata) Wahai penulis, penyembah gaya, Yang mabuk oleh eufoni dan frasa, Kau pikir dirimu nabi sastra, Padahal hanya tukang pamer celoteh belaka. Kau lempar diksi bagai mantra suci, Padahal isinya kosong, hampa, basi. Kau kira kata-kata bisa menebus langit, Nyatanya, cuma jadi status pretensius di koran berita pagi yang sepi. Kau penuhi panggung dengan wajah megah, Tapi makna lari dari setiap paragrafmu yang pongah. Sajakmu berisi cermin yang retak, Memantulkan bayangan ego yang menumpuk pekat. Betapa kau senang dipanggil "maestro", Tapi tak tahan dikritik satu pun dari bawah. Kau bicara tentang luka dan manusia, Padahal yang kau sembah cuma tepuk tangan dan pujian murahan semata. Engkau mencibir pembaca awam, "Tak mengerti seni!" katamu sok dalam. Tapi adakah seni dalam keangkuhan? Atau kau hanya pengecut dengan kosakata kebesaran? Buku-bukumu penuh blurb yang palsu, Kata pengantar ditulis teman sekomplot, Biar tampak penting, biar tampak...