Postingan

Gambar
 “Pada akhirnya, kita tidak benar-benar kehilangan seseorang saat mereka pergi. Kita kehilangan mereka saat kenangan mulai terasa lebih hidup daripada kehadiran mereka dahulu. Dan yang paling menyakitkan bukan perpisahan itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa ada begitu banyak kata yang tak sempat diucapkan, pelukan yang terlalu lama ditunda, serta perhatian yang baru terasa berharga setelah semuanya berubah menjadi ‘pernah’. Waktu memang tidak pernah berhenti berjalan, namun hati manusia sering tertinggal di tempat yang sama—mengulang nama, mengulang tawa, dan mengulang sesal yang tak menemukan akhir. Maka jika masih ada yang tinggal, jangan hanya dicintai dalam diam. Sebab beberapa kehilangan tidak datang untuk dilupakan, melainkan untuk mengajarkan bahwa penyesalan selalu lahir dari cinta yang terlambat diperlihatkan.” “Tersampaikan oleh Ruang Waktu”

Ruang waktu

Gambar
 

Ikhlas Dan Kenangannya

 Nanti Nanti, ketika waktu mempertemukan kita lagi di persimpangan yang tak pernah kita rencanakan, semoga kita sudah tahu cara tersenyum tanpa harus menyembunyikan sisa luka yang dulu kita rawat diam-diam. Mungkin kita hanya akan saling sapa, sederhana… tanpa gemetar yang dulu berlebihan, tanpa pertanyaan yang pernah tertahan di dada. Hanya dua orang yang pernah saling tinggal, lalu berjalan menjauh dengan cara paling sunyi. Nanti, jika kita duduk di tempat yang sama, biarlah tak ada lagi “seandainya”, tak ada lagi hitungan tentang yang hilang, atau siapa yang lebih dulu melepaskan. Karena pada akhirnya, kita hanya dua cerita yang pernah bertemu, lalu selesai tanpa benar-benar pamit. Cukup dikenang sebentar— bahwa pernah ada “kita” yang begitu penuh, begitu hidup, yang pernah percaya bahwa segalanya akan lama, meski akhirnya tak sempat utuh. Dan jika rindu itu datang lagi, biarkan ia sekadar lewat, seperti angin yang singgah tanpa ingin menetap, menyentuh sebentar, lalu pergi tanp...

Kita Yang Hilang

 Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana— seperti berdiri di tepi senja yang terlalu indah untuk dijelaskan, namun terlalu cepat untuk ditahan. Setiap kali ingin menceritakan tentangmu, kata-kata berhenti di tenggorokan, seperti hujan yang menggantung di langit enggan jatuh karena takut merusak tenang. Bukan karena tak ada yang bisa dikatakan, tapi karena kamu adalah kumpulan hal-hal baik yang terlalu utuh untuk dipecah menjadi kalimat. Dan aku… hanya seseorang yang tak pernah cukup pandai merangkai keindahan tanpa membuatnya terasa kurang. Kamu itu… baik. Seperti laut yang tak pernah menolak sungai, seperti langit yang selalu memberi tempat bagi burung-burung pulang. Terlalu baik— sampai aku sendiri bingung harus menempatkanmu sebagai apa dalam hidupku: rumah, atau sekadar persinggahan yang terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Dan mungkin di situlah semuanya mulai terasa berat. Sebab andai kamu adalah luka, aku bisa belajar membenci. Andai kamu adalah badai, aku bisa berlari men...

Rindu yang salah

Malam ini aku tidak banyak bicara pada langit. Aku hanya duduk, mendengarkan napasku sendiri yang masih menyebut namamu tanpa izin. Rindu ini tidak lahir dari harap yang bersih. Ia tumbuh pelan dari sesuatu yang seharusnya sudah selesai. Seperti luka lama yang tak sembuh, hanya terbiasa. Aku tahu aku memeluk yang keliru. Namun hatiku terlanjur hafal cara kehilanganmu. Maka setiap sunyi datang, namamulah yang pertama ia cari. Ada malam-malam di mana aku ingin berhenti mengingat. Tapi ingatan lebih keras dari niatku sendiri. Ia datang tanpa permisi, duduk di sampingku, lalu diam— seperti kau dulu. Aku melangkah tanpa tujuan yang jelas. Bukan untuk mengejarmu, hanya menjauh dari kenyataan bahwa kau tak lagi berjalan ke arahku. Rinduku tak berteriak. Ia hanya menetap. Menjadi beban kecil yang selalu kubawa, bahkan ketika aku tersenyum pada dunia. Kadang aku bertanya dalam hati, mengapa namamu masih terasa seperti rumah, padahal pintunya sudah lama tertutup. Jika suatu hari kau merasa ada s...

Kemenangan yang Diam-Diam

Aku tidak merayakan apa pun hari ini. Namun di dadaku, ada ruang yang akhirnya terasa tenang, Aku menang  bukan karena mampu melupakanmu seketika, melainkan karena berhenti menaruh harap pada pintu yang tak lagi terbuka. Keikhlasan datang perlahan, seperti senja yang menurunkan cahaya tanpa meminta malam cepat akan tiba. tidak menghapus ingatan, hanya mengajarkanku cara menyimpannya dengan tenang. Jujur aku pernah mencintaimu dengan seluruh yang kupunya. Dan itu tidak salah. Yang salah hanyalah meminta tinggal pada sesuatu yang sudah lama pergi. Hari ini aku berdiri tanpa menyebut namamu di doa-doa yang panjang. Bukan karena namamu hilang, melainkan karena hatiku tak lagi menggantungkan hidup pada satu arah lagi. Inilah kemenanganku: ketika aku mampu tersenyum tanpa menoleh ke belakang, ketika aku bisa berjalan tanpa membawa beban yang sama. Jika suatu hari ingatan tentangmu singgah, aku akan menyambutnya seperti tamu lama— dikenang, lalu dilepas pulang dengan sapa an sederhana, Ak...