Kita Yang Hilang

 Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana—

seperti berdiri di tepi senja yang terlalu indah untuk dijelaskan,

namun terlalu cepat untuk ditahan.

Setiap kali ingin menceritakan tentangmu,

kata-kata berhenti di tenggorokan,

seperti hujan yang menggantung di langit

enggan jatuh karena takut merusak tenang.

Bukan karena tak ada yang bisa dikatakan,

tapi karena kamu adalah kumpulan hal-hal baik

yang terlalu utuh untuk dipecah menjadi kalimat.

Dan aku… hanya seseorang

yang tak pernah cukup pandai merangkai keindahan

tanpa membuatnya terasa kurang.

Kamu itu… baik.

Seperti laut yang tak pernah menolak sungai,

seperti langit yang selalu memberi tempat bagi burung-burung pulang.

Terlalu baik—

sampai aku sendiri bingung harus menempatkanmu

sebagai apa dalam hidupku:

rumah, atau sekadar persinggahan yang terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

Dan mungkin di situlah semuanya mulai terasa berat.

Sebab andai kamu adalah luka,

aku bisa belajar membenci.

Andai kamu adalah badai,

aku bisa berlari menjauh tanpa ragu.

Namun kamu bukan keduanya—

kamu adalah teduh

yang justru membuat perpisahan terasa seperti kesalahan.

Kamu tetap tinggal

bahkan saat aku sendiri tak mudah dipahami,

kamu bertahan

di saat dunia kita tak selalu berpihak.

Dan karena itu…

perpisahan ini terasa seperti puisi yang dipaksa selesai

padahal baitnya masih ingin hidup.

Namun pada akhirnya,

sekuat apa pun kita menahan,

ada takdir yang tidak bisa dinegosiasikan.

Hubungan ini harus berakhir—

bukan karena kita tak saling sayang,

bukan karena kamu kurang,

dan bukan pula karena aku berhenti peduli.

Melainkan karena ada jalan-jalan

yang memang tidak diciptakan untuk ditempuh bersama,

meski kaki kita sempat seirama.

Dan jujur saja,

menerima itu lebih sulit daripada kehilangan itu sendiri—

karena yang hilang bisa dilupakan,

tapi yang tak sempat selesai

akan selalu menemukan cara untuk kembali.

Aku tidak punya alasan untuk membencimu.

Yang tersisa hanya kenangan—

tentang seseorang yang baik,

yang datang seperti musim yang tepat,

lalu pergi tanpa sempat disalahkan.

Aku ingin menuliskanmu dengan kata-kata indah,

namun setiap huruf terasa terlalu kecil untukmu.

Jadi mungkin, biarlah semuanya tetap berantakan

di dalam hati—

seperti perasaan ini

yang tak pernah benar-benar selesai,

tapi sudah harus berakhir.

Dan untuk semua yang pernah kamu beri—

waktu yang tak bisa diulang,

perhatian yang tak bisa diganti,

kesabaran yang tak pernah diminta,

dan ketulusan yang bahkan tak sempat aku balas sepenuhnya…

terima kasih.

Terima kasih yang tak terhingga,

karena pernah hadir

dengan cara sebaik itu di hidupku.

Tidak ada penyesalan pernah bertemu denganmu—

hanya ada syukur

yang diam-diam tumbuh di antara luka.

Aku senang pernah mengenalmu,

meski akhirnya kita harus menjadi

dua cerita yang berjalan sendiri-sendiri.

Dan semoga—

di suatu waktu yang lebih ramah,

di titik takdir yang lebih berpihak,

kita bisa bertemu lagi…

bukan sebagai kehilangan,

melainkan sebagai dua nama

yang akhirnya menemukan rumahnya masing-masing.



Ruang Waktu. 06 april 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"