Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"
---
(Karakter berdiri sendiri, memandangi jendela, atau duduk di kursi tua, memegang secangkir teh yang sudah dingin. Suaranya tenang, tapi penuh luka yang ditahan.)
Aku tidak tahu harus berapa lama lagi aku duduk di sini, menatap jalan yang tak pernah kau lewati.
Malam datang dan pergi, seperti gelombang pasang yang tak pernah membawa kapal pulang.
Dan aku tetap di sini—menunggu.
Bukan karena aku bodoh… tapi karena aku pernah percaya pada kata-katamu.
Kau bilang akan kembali.
Kau bilang, tunggulah… sebentar saja.
Tapi “sebentar” dalam waktu seorang perindu adalah selamanya yang dibungkus janji.
Tahukah kau, sejak kau pergi, jam di rumah ini tak pernah berdetak sama lagi?
Setiap detik terdengar seperti pertanyaan,
“Masih pantaskah aku berharap?”
(Sesaat diam, menarik napas dalam.)
Aku mencoba menanam harap di taman kecil di hatiku.
Aku sirami dengan sabar, aku bisiki doa, aku lindungi dari badai keraguan.
Tapi tanpa kepastian darimu… harap itu tumbuh miring.
Seperti pohon yang terlalu lama menghadap angin, ia rebah—namun tetap tumbuh
Seperti aku.
Aku tak marah, sungguh.
Karena yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan…
Tapi dibiarkan menggantung di antara kemungkinan.
(Suaranya mulai gemetar sedikit, tapi masih tenang.)
Jika kau tak mencintaiku lagi, katakan.
Jika hatimu sudah tak singgah di namaku, katakan.
Luka yang datang dari kejujuran akan sembuh.
Tapi luka karena berharap pada bayang-bayang? Itu perlahan mengikis.
Seperti karang yang diciumi ombak ribuan kali, ia hancur, tapi tak bersuara.
(Setelah jeda, ia menatap jauh, seolah melihat kenangan.)
Kau tahu, setiap kali aku mendengar suara langkah di luar pagar, jantungku berdebar.
Bukan karena aku yakin itu kau… tapi karena aku masih berharap itu kau.
Lalu aku menertawakan diriku sendiri.
Betapa mudahnya kau membuatku percaya pada hal yang tak pernah pasti.
Aku menulis surat, tapi tak tahu ke mana harus kukirim.
Aku menyusun kata demi kata, lalu menyobeknya lagi.
Karena apa gunanya berkata, jika tak ada telinga yang ingin mendengarkan?
(Suaranya melembut, semakin lirih.)
Malam ini, aku bicara bukan karena ingin didengar.
Aku bicara… karena hatiku terlalu penuh, dan jika aku diam, aku akan pecah.
Aku ingin kau tahu,
menunggu bukan hanya tentang waktu…
tapi tentang menyimpan luka dengan sabar, tentang berharap meski tak digenggam.
Jika kau mencintaiku, datanglah.
Jika tidak, bebaskan aku dari jerat harap ini.
Jangan biarkan aku menjadi penunggu abadi yang tak pernah dipeluk kepastian.
Karena bahkan matahari pun tahu kapan harus tenggelam.
Tapi aku?
Aku tak tahu kapan harus berhenti menunggu seseorang yang tak pasti kembali.
(Sesaat sunyi. Ia menatap kosong.)
Aku sudah kehabisan doa, tapi belum kehilangan cinta.
Dan mungkin itulah yang paling menyedihkan.
09_OKTOBER_2025
Tapaktuan
Yuangπ§
Komentar
Posting Komentar