Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"
--- (Karakter berdiri sendiri, memandangi jendela, atau duduk di kursi tua, memegang secangkir teh yang sudah dingin. Suaranya tenang, tapi penuh luka yang ditahan.) Aku tidak tahu harus berapa lama lagi aku duduk di sini, menatap jalan yang tak pernah kau lewati. Malam datang dan pergi, seperti gelombang pasang yang tak pernah membawa kapal pulang. Dan aku tetap di sini—menunggu. Bukan karena aku bodoh… tapi karena aku pernah percaya pada kata-katamu. Kau bilang akan kembali. Kau bilang, tunggulah… sebentar saja. Tapi “sebentar” dalam waktu seorang perindu adalah selamanya yang dibungkus janji. Tahukah kau, sejak kau pergi, jam di rumah ini tak pernah berdetak sama lagi? Setiap detik terdengar seperti pertanyaan, “Masih pantaskah aku berharap?” (Sesaat diam, menarik napas dalam.) Aku mencoba menanam harap di taman kecil di hatiku. Aku sirami dengan sabar, aku bisiki doa, aku lindungi dari badai keraguan. Tapi tanpa kepastian darimu… harap itu tumbuh miring. Seperti pohon yang te...