Rindu yang salah
Malam ini aku tidak banyak bicara pada langit. Aku hanya duduk, mendengarkan napasku sendiri yang masih menyebut namamu tanpa izin. Rindu ini tidak lahir dari harap yang bersih. Ia tumbuh pelan dari sesuatu yang seharusnya sudah selesai. Seperti luka lama yang tak sembuh, hanya terbiasa. Aku tahu aku memeluk yang keliru. Namun hatiku terlanjur hafal cara kehilanganmu. Maka setiap sunyi datang, namamulah yang pertama ia cari. Ada malam-malam di mana aku ingin berhenti mengingat. Tapi ingatan lebih keras dari niatku sendiri. Ia datang tanpa permisi, duduk di sampingku, lalu diam— seperti kau dulu. Aku melangkah tanpa tujuan yang jelas. Bukan untuk mengejarmu, hanya menjauh dari kenyataan bahwa kau tak lagi berjalan ke arahku. Rinduku tak berteriak. Ia hanya menetap. Menjadi beban kecil yang selalu kubawa, bahkan ketika aku tersenyum pada dunia. Kadang aku bertanya dalam hati, mengapa namamu masih terasa seperti rumah, padahal pintunya sudah lama tertutup. Jika suatu hari kau merasa ada s...