Rindu yang salah
Malam ini
aku tidak banyak bicara pada langit.
Aku hanya duduk,
mendengarkan napasku sendiri
yang masih menyebut namamu
tanpa izin.
Rindu ini
tidak lahir dari harap yang bersih.
Ia tumbuh pelan
dari sesuatu yang seharusnya
sudah selesai.
Seperti luka lama
yang tak sembuh,
hanya terbiasa.
Aku tahu
aku memeluk yang keliru.
Namun hatiku terlanjur hafal
cara kehilanganmu.
Maka setiap sunyi datang,
namamulah yang pertama
ia cari.
Ada malam-malam
di mana aku ingin berhenti mengingat.
Tapi ingatan lebih keras
dari niatku sendiri.
Ia datang tanpa permisi,
duduk di sampingku,
lalu diam—
seperti kau dulu.
Aku melangkah
tanpa tujuan yang jelas.
Bukan untuk mengejarmu,
hanya menjauh
dari kenyataan
bahwa kau tak lagi berjalan
ke arahku.
Rinduku tak berteriak.
Ia hanya menetap.
Menjadi beban kecil
yang selalu kubawa,
bahkan ketika aku tersenyum
pada dunia.
Kadang aku bertanya dalam hati,
mengapa namamu
masih terasa seperti rumah,
padahal pintunya
sudah lama tertutup.
Jika suatu hari
kau merasa ada sesuatu
yang memanggilmu pelan
di antara kesibukanmu,
itu bukan aku
yang ingin kembali.
Itu hanyalah hatiku
yang belum pandai
melepaskan dengan benar.
Malam ini aku belajar satu hal:
rindu bisa salah,
tanpa harus disesali.
Ia hanya perlu
diletakkan perlahan,
agar tidak melukai siapa pun—
termasuk diriku sendiri.
Dan jika aku masih menyebut namamu,
itu bukan doa.
Hanya kebiasaan lama
yang belum sepenuhnya
berani pamit.
#Ruang & Waktu
Komentar
Posting Komentar