Monolog jingga
Monolog Jingga
Part / 1
Tepat saat lembayung senja melukis langit barat dengan jingga yang hangat,
aku menyaksikan betapa indah warna-warna yang tersaji—
seolah alam sedang menulis puisinya sendiri.
Dan ketika surya perlahan menanggalkan jejaknya di cakrawala,
aku kembali teringat pada kisah yang pernah kita rajut indah,
namun akhirnya harus disudahi.
Pena dan buku menjadi saksi dari segalanya.
Pena itu menari di atas kertas, menulis tentang perjuangan
yang mungkin hanya fatamorgana—
dan kita berdua, adalah tokoh utama dalam kisah itu.
Aku—yang kalah.
Dan kau—pemenang yang melangkah pergi dengan tenang.
Di setiap baris tulisan ini, terselip luka yang ingin kuperdengarkan pada senja:
tentang kenangan yang pilu, namun tertata rapi di lemari ingatan.
Senja, kau tahu? Kini aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan,
dengan air mata yang tak tahu kapan harus jatuh atau berhenti.
Kadang kutangisi kebahagiaan, kadang kubahagiakan kesedihan.
Segalanya bercampur, rumit, seperti kalimat yang kehilangan tanda titik.
Namun percayalah, aku sudah belajar tegar—
menepis duka yang masih menjelma dalam bayangan.
Meskipun sakit itu tetap menetap,
dan kenangan masih enggan hilang dari ingatan.
Dulu kita sama-sama sederhana,
seperti dua arsitek kecil yang sedang merancang istana impian.
Kita begitu bersemangat,
tanpa menyadari bahwa pondasi yang kita bangun
tak cukup kuat menampung semua harapan.
Bahagia yang ingin kita ciptakan itu runtuh begitu saja,
sebelum sempat menjadi istana yang kita dambakan.
Dan kau—dengan mudah mengganti peran,
bergegas pergi sebelum semua jadi nyata.
Kini hanya ada aku,
bersama reruntuhan mimpi dan dinding harapan yang retak.
Kau telah berlalu, mencari bangunan megah yang telah siap untuk kau diami—
sementara aku masih di sini,
mengumpulkan puing-puing janji yang berserakan,
mencoba menyusun ulang serpihan yang tersisa,
meski dalam diam aku tahu:
kau tak akan kembali.
Aku masih menatap cakrawala berbalut senja,
sambil bertanya dalam isak yang pelan—
mengapa begitu mudah bagimu meninggalkan semua yang kita bangun?
Apakah hanya aku yang berjuang?
Apakah pengorbananku tak pernah singgah dalam ingatanmu?
Aku berjuang agar kau selalu merasa cukup,
agar senyum tetap tinggal di wajahmu,
meski aku sendiri sering tersungkur,
menunduk, menahan pilu, demi menjaga bahagiamu.
Kini aku mengerti,
tak semua cerita harus berakhir bersama.
Mungkin memang sudah seharusnya begini—
aku yang menulis, kau yang berpamitan.
Maka izinkan aku mengucapkan selamat,
untukmu yang kini telah menemukan arsitek terbaik,
yang mampu membangun istana megah untuk tempatmu berlabuh.
Selamat, untuk tawa yang kini kembali merekah,
untuk senyum yang dulu sempat hilang di sisiku.
Maaf, jika dulu aku hanya mampu menjadi bayang dari kebahagiaanmu.
Terima kasih, untuk waktu yang pernah kau bagi—
meski tak berlabuh pada pelukan yang sama.
Tujuanku sedari awal hanya satu:
melihatmu bahagia, sepenuhnya.
Meski bukan aku pahlawan kisah hidupmu,
aku bahagia pernah menjadi satu paragraf kecil dalam perjalananmu.
Dan jika akhirnya peranku hanya lara—
tak apa, sebab aku pernah menjadi bagian dari cerita itu.
Terkadang, bahagia itu memang menangis juga.
Air mata dan senyum ternyata bisa berbagi ruang yang sama.
Semoga bahagia selalu menyertaimu...
Ditulis di ujung Pantai Selat Malaka,
bersama secangkir kopi, sebatang pena, dan selembar kertas.
01-01-2019 —yuangπ§
Komentar
Posting Komentar