Ruang waktu
Di Antara Aku Dan Yang Tak Terucap" Di balik wajah yang tampak tenang, ada hatiku yang masih mencari tempat pulang. Ia berjalan pelan— seperti bayangan senja yang tidak ingin terburu malam. Kadang batinku memanggilku dengan suara yang begitu kecil hingga dunia tidak pernah menyadarinya. Ia berkata lirih, “Sudah lama kita tidak saling mendengarkan.” Di ruang sunyi itu, aku menyimpan segala yang tak sempat kusampaikan: rindu yang berbentuk embun, luka yang tidak punya warna, dan harapan yang menggigil karena terlalu lama menunggu dipeluk. Ada malam-malam ketika batinku terasa seperti jendela berembun— menunggu seseorang menghapusnya agar cahaya bisa masuk kembali. Namun tak ada tangan yang datang, kecuali tanganku sendiri yang perlahan mencoba belajar untuk tidak gemetar. Di dalam diriku, segala rasa tumbuh tanpa suara: kesedihan yang menua seperti kayu tua, kerinduan yang berjalan tanpa jejak, dan keberanian kecil yang terus mencoba mengetuk pintu hari esok. Batin ini… adalah lang...