Ruang waktu

 Di Antara Aku Dan Yang Tak Terucap"


Di balik wajah yang tampak tenang,

ada hatiku yang masih mencari tempat pulang.

Ia berjalan pelan—

seperti bayangan senja

yang tidak ingin terburu malam.


Kadang batinku memanggilku

dengan suara yang begitu kecil

hingga dunia tidak pernah menyadarinya.

Ia berkata lirih,

“Sudah lama kita tidak saling mendengarkan.”


Di ruang sunyi itu,

aku menyimpan segala yang tak sempat kusampaikan:

rindu yang berbentuk embun,

luka yang tidak punya warna,

dan harapan yang menggigil

karena terlalu lama menunggu dipeluk.


Ada malam-malam

ketika batinku terasa seperti jendela berembun—

menunggu seseorang menghapusnya

agar cahaya bisa masuk kembali.

Namun tak ada tangan yang datang,

kecuali tanganku sendiri

yang perlahan mencoba belajar untuk tidak gemetar.


Di dalam diriku,

segala rasa tumbuh tanpa suara:

kesedihan yang menua seperti kayu tua,

kerinduan yang berjalan tanpa jejak,

dan keberanian kecil

yang terus mencoba mengetuk pintu hari esok.


Batin ini…

adalah langit yang kadang cerah, kadang retak,

namun selalu menyimpan bintang

yang menunggu ditemukan.

Dan setiap kali aku tersenyum,

ada setitik cahaya dari sana

yang ikut menyala.


Aku belajar bahwa

tidak semua yang hening itu rapuh,

dan tidak semua yang diam itu pasrah.

Ada hati yang justru lebih kuat

ketika ia memilih tidak bersuara.


Maka malam ini,

aku duduk bersama batinku sendiri—

tanpa ingin menyembunyikan apa pun,

tanpa terburu sembuh,

tanpa memaksa bahagia.


Aku hanya ingin menjadi tempat

di mana seluruh rasa bisa pulang

tanpa takut ditinggalkan.


01/12/2025

Tapak Tuan

Ruang Waktu


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"