ELEGI FATAMORGANA



🌫️ Elegi Fatamorgana

---


Invrof / Narator (Pembuka):


Di antara jarak yang tak bisa dijangkau,

dan waktu yang tak pernah memberi izin,

terdapat dua jiwa

yang saling mencinta

tanpa pernah benar-benar bersua.


Mereka tak terikat oleh tangan,

hanya oleh rasa.

Tak dipertemukan oleh langkah,

hanya oleh luka yang sama.


Ini bukan tentang perpisahan,

karena tak pernah ada pertemuan.

bukan tentang kehilangan,

karena yang hilang…

belum pernah dimiliki.

hanya sampai di batas pandang—

sebuah cinta yang menjelma fatamorgana:

hadir dalam cahaya,

namun sirna saat didekati.

Keindahan nya,



(Perempuan):

Aku berjalan dalam senyap,

di antara pasir waktu yang tak pernah mengingat jejakku.

Ada bias wajahmu dalam tiap ilusi senja,

tapi setiap kali kutatap,

bayang itu menjauh —

seolah tahu aku tak pantas mendekat.


Aku memanggil namamu,

bukan lewat suara,

melainkan lewat luka yang kubiarkan terbuka.

Agar semesta tahu:

aku tidak sedang baik-baik saja

saat dunia memintaku melupakanmu.


Setiap malam kutulis surat di langit,

dengan bintang sebagai huruf dan sunyi sebagai tinta,

tapi tak satu pun sampai padamu.

Barangkali karena alamatmu

hanya ada dalam mimpi yang kupaksa percaya nyata.


(Laki-laki):


Dan aku,

menunggumu dari ujung waktu yang tak pernah mengizinkan temu.

Langkahmu begitu nyata dalam imajiku,

tapi ketika kuayunkan kaki,

bumi menggigil dan menolakku untuk mendekat.


Kau adalah keindahan yang diarak oleh jarak,

sebuah musim yang datang

hanya saat aku tertidur.

Ketika kujelang,

kau berubah menjadi kabut

yang menari—

lalu hilang sebelum kuucapkan satu kata.


Aku mencintaimu

seperti langit mencintai bintang:

terlihat dekat,

namun tak pernah bisa disentuh,

tak peduli seberapa luas tanganku menjangkau.


(Perempuan):


Kita pernah ada, bukan?

Atau semua ini hanya reka dunia yang gemar mempermainkan hati?

Kadang aku takut,

bukan karena kau menjauh,

tapi karena bisa jadi

kau tak pernah benar-benar mendekat.


Aku mencintaimu,

seperti puisi mencintai pembacanya yang tak pernah mengerti makna.

Berharap dimengerti,

namun hanya dibaca lalu dilupakan.


Jika cinta ini adalah fatamorgana,

biarlah aku tersesat selamanya.

Sebab bahkan kesesatan bersamamu

terasa lebih indah

dari pada kenyataan tanpamu.



(Laki-laki):


Aku juga mencintaimu,

bukan dalam wujud yang bisa disentuh,

melainkan dalam rasa yang tak pernah bisa kugambarkan.

Kau hadir di antara sela doa

yang kusebut lirih—

tak berani lantang,

karena takut surga menertawakan harapku.


Aku ingin menemuimu.

Tapi setiap kali kudekatkan hati,

dunia memisahkan langkah kita

dengan aturan-aturan tak tertulis,

seakan semesta pun setuju

bahwa kita hanya boleh saling mengenang,

bukan saling memiliki.


Kau adalah perhentian yang tak bisa kusinggahi.

Aku adalah pelancong yang hanya menatap dari kejauhan,

berharap...

sekali saja kau menoleh.


(Perempuan):


Aku menyebutmu dalam sunyi,

seperti angin menyebut laut dalam setiap hembusnya.

Kau tak mendengar,

tapi tetap jadi tujuan.


Sungguh,

aku ingin percaya cinta bisa menembus segalanya—

kasta, waktu, jarak, bahkan takdir.

Tapi mungkin itu hanya dongeng

yang kita percayai

agar luka terasa lebih puitis.


Bahkan dalam tidur,

kau tetap menjauh.

Kau datang sebagai peluk

yang tak pernah selesai,

sebagai nama

yang tak pernah sempat kupanggil keras-keras.


(Laki-laki):


Aku tak tahu apakah ini cinta,

atau hanya luka yang terlalu indah untuk dihapus.

Yang kutahu,

kau tinggal di kepalaku

lebih lama dari siapa pun yang pernah mengetuk pintu hatiku.


Jika suatu hari kita bertemu di dunia lain—

yang tak punya dinding bernama kenyataan,

akan kupeluk engkau dengan tangan yang utuh,

bukan bayang-bayang.

Akan kupanggil namamu

tanpa takut dunia marah.


Tapi di sini,

di dunia yang kejam ini,

aku hanya bisa mencintaimu

sebagai kenangan yang tak berani kubunuh.


(Bersama/solo laki2):


Kita saling mencintai,

namun dipisahkan oleh hal-hal

yang tak bisa dijelaskan pada siapa pun.

Bukan oleh perang,

bukan oleh kematian,

melainkan oleh kenyataan yang terlalu senyap,

dan waktu…

yang selalu datang terlambat.


(Perempuan):


Kau tak pernah benar-benar hadir…


(Laki-laki):


…tapi aku tak pernah bisa benar-benar pergi.


(Bersama/ solo perempuan):


Kita adalah dua jiwa

yang saling menemukan

dalam halusinasi yang terlalu nyata—

fatamorgana yang begitu manis,

namun hancur saat disentuh.



Invrof):


Maka kedua cinta ini tetap tinggal

di padang hati yang tandus,

sebagai jejak langkah

yang tak pernah saling bertemu.


Karena tidak semua cinta

harus dimiliki,

tidak semua rindu

harus sampai.


Sebagian cinta diciptakan untuk menjadi kenangan.

Sebagian rindu…

untuk tidak pernah kembali.



Tapaktuan.08.maret.2024.

Yuang🧭



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"