Monolog jingga
Part/ll Kini hari-hari tanpa kamu... adalah hari-hari yang tetap bernama Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya, tapi kehilangan warnanya. Tak ada lagi perbedaan antara pagi dan malam, karena rasanya semua waktu kini hanya satu: waktu tanpamu. Aku masih ingat betul hari kamu pergi—bukan secara tiba-tiba, tapi seperti senja yang pelan-pelan menelan matahari. Tak ada suara, tak ada ledakan, hanya kesunyian yang semakin nyata. Dan saat kusadari, aku sudah sendirian di dalam dunia yang dulu kita bangun berdua. Sejak itu, setiap hari terasa seperti ruang tunggu yang tak berujung. Aku menunggu... entah apa. Mungkin keajaiban. Mungkin kamu. Mungkin versi diriku yang bisa benar-benar menerima bahwa kamu tak lagi di sini. Pagi-pagi terasa asing. Kopi yang dulu kau racik dengan canda, kini hanya cairan pahit yang kuteguk demi rutinitas. Tak ada lagi diskusi tentang rencana akhir pekan, tak ada pelukan terburu-buru sebelum kau pergi, tak ada “jaga diri baik-baik” yang bia...