Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 10, 2025

Monolog jingga

 Part/ll Kini hari-hari tanpa kamu... adalah hari-hari yang tetap bernama Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya, tapi kehilangan warnanya. Tak ada lagi perbedaan antara pagi dan malam, karena rasanya semua waktu kini hanya satu: waktu tanpamu. Aku masih ingat betul hari kamu pergi—bukan secara tiba-tiba, tapi seperti senja yang pelan-pelan menelan matahari. Tak ada suara, tak ada ledakan, hanya kesunyian yang semakin nyata. Dan saat kusadari, aku sudah sendirian di dalam dunia yang dulu kita bangun berdua. Sejak itu, setiap hari terasa seperti ruang tunggu yang tak berujung. Aku menunggu... entah apa. Mungkin keajaiban. Mungkin kamu. Mungkin versi diriku yang bisa benar-benar menerima bahwa kamu tak lagi di sini. Pagi-pagi terasa asing. Kopi yang dulu kau racik dengan canda, kini hanya cairan pahit yang kuteguk demi rutinitas. Tak ada lagi diskusi tentang rencana akhir pekan, tak ada pelukan terburu-buru sebelum kau pergi, tak ada “jaga diri baik-baik” yang bia...

HIKAYAT DARI NEGERI MELAYU

Maka tersebutlah suatu kisah, di sebuah negeri bersemayam resah. Namanya negeri sempurna kata , walau isinya luka dan dusta. Di sanalah bertahta seorang raja, bermahkota dari janji dan tawa. Bicaranya lemah-lembut bersajak, tapi giginya gemar menggigit diam-diam. Ia bertitah dari menara kaca, tempat angin tak berani berkata. "Rakyatku bahagia!" sabdanya nyaring, padahal di bawah, perut menggiring angin. Maka raja pun dikelilingi cendekia palsu, bergelar panjang dari buku semu. Mereka pandai menyusun kata, tapi bodoh bila bicara fakta. Datanglah Tuan Laba dan Encik Tikus , membawa bagan penuh tipu dan muslihat. "Tuanku," kata mereka bersahaja, "Rakyat tak perlu makan, cukup percaya." Maka ditulislah hukum baru, yang tajam ke bawah, tumpul ke atas batu. Yang mencuri ayam dipenjara tujuh musim, yang mencuri negeri diundang ke simposium. Adapun rakyat di Negeri Sempurna, hidup dari mimpi dan sembako kamera. Petani bersawah tanpa can...

Bahagia di sudut senja

Pantai sore itu tidak ramai. Hanya deru ombak yang sesekali memecah kesunyian, dan angin laut yang membelai wajah dengan lembut. Langit perlahan berubah warna, seperti lukisan yang sedang diselesaikan pelukis langit yang malas terburu-buru. Di ufuk barat, matahari mulai condong turun, menciptakan bayangan panjang di pasir yang hangat. Kita duduk berdua di atas tikar anyaman tua yang kamu bawa dari rumah. Tak ada musik, tak ada suara selain desiran laut dan tawa kecilmu ketika rambutku ditiup angin ke wajahmu. Kamu menyelipkan anak rambut itu ke belakang telingaku dengan sentuhan yang pelan—halus dan penuh perhatian, seperti semua hal yang kamu lakukan selama ini. "Kau tahu," katamu, memecah keheningan, "senja di sini selalu membuatku merasa pulang." Aku tak menjawab. Hanya menatapmu, dan merasa bahwa aku juga telah menemukan rumahku—bukan pada tempat, tapi pada seseorang. Pada kamu. Pada caramu memandang langit jingga seolah-olah kamu sedang berbicara pada masa lalu...

Kepadamu yang pernah

Kepadamu yang pernah singgah, dengan langkah ringan yang tak bersuara namun menggema dalam dadaku, aku menulis ini bukan untuk mengulang luka, melainkan sebagai pengingat bahwa kau pernah menjadi musim di taman hatiku yang lama tandus dan beku. Kau datang seperti senja di sore yang murung — tenang, indah, dan terlalu cepat berlalu. Kita berbicara tentang langit dan laut, tentang mimpi-mimpi yang belum selesai, dan tentang cinta yang kita kira tak akan pernah usai. Ternyata, waktu punya caranya sendiri untuk menunjukkan bahwa tidak semua yang terasa benar akan bertahan selamanya. Kepadamu yang pernah membuat pagi-pagiku terasa lebih hangat meski matahari belum terbit sepenuhnya, yang membuat aku menulis puisi di tengah malam hanya karena rinduku terlalu bising untuk diredam. Kau adalah jeda dalam hidupku yang begitu keras berlari — dan di jeda itulah aku menemukan tenang, walau sementara. Tapi aku sadar, tak semua kebersamaan perlu memiliki akhir bahagia, dan tak semua pertemuan harus d...