Kepadamu yang pernah


Kepadamu yang pernah singgah,

dengan langkah ringan yang tak bersuara namun menggema dalam dadaku,

aku menulis ini bukan untuk mengulang luka,

melainkan sebagai pengingat bahwa kau pernah menjadi musim

di taman hatiku yang lama tandus dan beku.


Kau datang seperti senja di sore yang murung —

tenang, indah, dan terlalu cepat berlalu.

Kita berbicara tentang langit dan laut, tentang mimpi-mimpi yang belum selesai,

dan tentang cinta yang kita kira tak akan pernah usai.

Ternyata, waktu punya caranya sendiri

untuk menunjukkan bahwa tidak semua yang terasa benar

akan bertahan selamanya.


Kepadamu yang pernah membuat pagi-pagiku terasa lebih hangat

meski matahari belum terbit sepenuhnya,

yang membuat aku menulis puisi di tengah malam

hanya karena rinduku terlalu bising untuk diredam.

Kau adalah jeda dalam hidupku yang begitu keras berlari —

dan di jeda itulah aku menemukan tenang,

walau sementara.


Tapi aku sadar, tak semua kebersamaan perlu memiliki akhir bahagia,

dan tak semua pertemuan harus dilanjutkan menjadi kisah.

Ada yang cukup disyukuri karena pernah,

seperti hujan pertama setelah kemarau panjang,

seperti lagu lama yang tak sengaja terdengar,

seperti kenangan manis yang hanya perlu dikenang,

bukan diulang.


Kini, aku belajar menerima bahwa kehilangan pun bisa menjadi hadiah.

Bahwa kepergianmu bukan akhir dari segalanya,

melainkan awal dari aku yang baru —

aku yang belajar tidak menggenggam terlalu erat,

aku yang tahu bahwa cinta pun kadang harus dilepaskan

agar bisa tumbuh di tempat lain, dengan cara yang lebih sehat.


Kepadamu yang pernah,

terima kasih telah menjadi bagian dari kisahku.

Kau mungkin tidak tinggal,

tapi jejakmu ada di antara halaman-halaman hidupku

yang akan kubaca ulang suatu hari nanti —

dengan senyum, bukan air mata.


Dan jika suatu hari kita bertemu lagi,

biarlah cukup saling menyapa,

tanpa perlu menggali luka lama.

Sebab aku sudah berdamai,

dengan kehilangan,

dengan kenangan,

dan dengan namamu yang dulu kusebut dalam doa

tapi kini kusimpan dalam diam.



11_juli,2024

Tapaktuan.

Yuang🧭



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"