Postingan

Menampilkan postingan dari Februari 22, 2025

MENGELAYUP RASA

Improv# (Sebuah Monolog Dialog di Bawah Langit yang Muram) Sudah saatnya gulita malam bersemayam, menyelubungi ranum kegelisahan yang disembunyikan dengan begitu apik. Derai hujan malam itu membasahi debu-debu yang telah lama kehilangan peran; mereka membatu, menyamarkan rindu demi rindu yang tak sempat bernama. Hari itu, kenangan tersemat rapi di pangkal amigdala — dua insan saling berjanji, berpegang pada harapan di antara dua hati yang rapuh. Semesta menjadi saksi, bahwa kisah cinta yang dahulu protagonis kini berubah menjadi fatamorgana. Kisah abu yang tak pernah diminta, namun tetap tertulis di halaman takdir. P: Tuan… kini kesunyian malam terasa begitu menyiksa. Kegelisahan menari di pelupuk mataku, jarak dan ruang menjelma duri yang menyalip di antara napas. Akankah kisah ini berujung temu? L: Puan, kegelisahan seperti apa yang terus menghantui matamu? Kesunyian seperti apa yang menyekat jiwamu? Katakanlah padaku, puan… P: Kegelisahan hati ini terlalu ramai, tu...