MENGELAYUP RASA



Improv#

(Sebuah Monolog Dialog di Bawah Langit yang Muram)

Sudah saatnya gulita malam bersemayam,
menyelubungi ranum kegelisahan yang disembunyikan dengan begitu apik.
Derai hujan malam itu membasahi debu-debu yang telah lama kehilangan peran;
mereka membatu, menyamarkan rindu demi rindu
yang tak sempat bernama.

Hari itu, kenangan tersemat rapi di pangkal amigdala —
dua insan saling berjanji,
berpegang pada harapan di antara dua hati yang rapuh.
Semesta menjadi saksi,
bahwa kisah cinta yang dahulu protagonis kini berubah menjadi fatamorgana.
Kisah abu yang tak pernah diminta,
namun tetap tertulis di halaman takdir.


P:
Tuan… kini kesunyian malam terasa begitu menyiksa.
Kegelisahan menari di pelupuk mataku,
jarak dan ruang menjelma duri yang menyalip di antara napas.
Akankah kisah ini berujung temu?

L:
Puan, kegelisahan seperti apa yang terus menghantui matamu?
Kesunyian seperti apa yang menyekat jiwamu?
Katakanlah padaku, puan…

P:
Kegelisahan hati ini terlalu ramai, tuan.
Bertubi-tubi pertanyaan datang di tengah hening malam,
menyergap tanpa jeda.
Apakah penantian ini akan berujung temu,
atau hanya menjadi kesia-siaan yang indah namun menyakitkan?

L:
Puan, padi yang engkau tuai hari ini
bukanlah padi yang engkau tanam kemarin sore.

P:
Jangan beri aku perumpamaan yang sulit, tuan.
Aku hanya ingin mengerti.

L:
Belajarlah, puan —
menerima keadaan tanpa membenci takdir yang telah ditetapkan.

P:
Maksudmu, tuan?

L:
Tak ada maksud lain, puan.
Aku hanya turut merasakan apa yang kau rasa:
kegelisahan, ketakutan, dan rindu yang menikam pelan.
Ingin rasanya kujawab semua tanya di hatimu,
namun aku hanya bisa menenangkan gundah yang membara.

Jangan biarkan rindu itu semakin dalam melukaimu.
Sabarkanlah hatimu.
Berpeganglah pada keyakinan —
bahwa yang tertunda belum tentu hilang.

P:
Tuan… aku sudah tak sanggup lagi.
Rindu ini menyalip seluruh waktuku,
menyeretku dalam sepi yang dingin dan tak berbatas.
Aku tahu jarak dan waktu jadi pemisah kita,
namun apakah salah jika aku ingin, walau sesaat,
merasakan hangat dekapanmu,
genggamanmu,
walau hanya seperti bayang yang menepi di tepi mimpi?

Segalanya terasa membebani.
Makan tak kenyang, tidur pun tak lelap…

L:
Puan, kini risau telah menjalar ke setiap nadimu.
Kata-katamu terasa merangkai ragu.
Aku di sini masih berjuang,
bermandikan keringat di bawah terik matahari,
berdampingan dengan malam-malam yang dinginnya menggigilkan tulang.
Namun aku tetap tegar,
melewati semuanya dengan harapan satu:
doakan aku, puan.

Doakan agar kelak ada jembatan
yang bisa menyebrangi lautan gelisahmu.
Meski kita berada di ruang berbeda,
dengan sajadah tak sama,
kita masih berdoa pada arah yang satu —
dengan “amin” yang sama.

Mohonlah pada-Nya,
agar lara yang kini kita rasa
suatu hari berganti menjadi bahagia.

Kini malam kian larut, puan.
Biarkan kita hanyut dalam arus yang dibawanya.
Biarkan ia membawa kita
sampai ke muara sendu yang menenangkan.

P:
Tuan… aku tak lagi sanggup.
Aku ingin kau tepiskan kesunyian malamku ini.

L:
Insya Allah, puan.
Pejamkanlah matamu…
dan rasakan belai tanganku di keningmu.
Mungkin hanya sepintas —
tapi cukup untuk membuat rindu itu pulang sebentar.


🕯️ Ditulis: 23 Februari 2025
Yuang 🧭& Suna



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"