HIKAYAT DARI NEGERI MELAYU


Maka tersebutlah suatu kisah,
di sebuah negeri bersemayam resah.
Namanya negeri sempurna kata,
walau isinya luka dan dusta.

Di sanalah bertahta seorang raja,
bermahkota dari janji dan tawa.
Bicaranya lemah-lembut bersajak,
tapi giginya gemar menggigit diam-diam.

Ia bertitah dari menara kaca,
tempat angin tak berani berkata.
"Rakyatku bahagia!" sabdanya nyaring,
padahal di bawah, perut menggiring angin.


Maka raja pun dikelilingi cendekia palsu,
bergelar panjang dari buku semu.
Mereka pandai menyusun kata,
tapi bodoh bila bicara fakta.

Datanglah Tuan Laba dan Encik Tikus,
membawa bagan penuh tipu dan muslihat.
"Tuanku," kata mereka bersahaja,
"Rakyat tak perlu makan, cukup percaya."

Maka ditulislah hukum baru,
yang tajam ke bawah, tumpul ke atas batu.
Yang mencuri ayam dipenjara tujuh musim,
yang mencuri negeri diundang ke simposium.

Adapun rakyat di Negeri Sempurna,
hidup dari mimpi dan sembako kamera.
Petani bersawah tanpa cangkul,
karena cangkul dipajaki sejak subuh.

Anak kecil menghafal seribu bait,
tentang cinta tanah air dan langit.
Namun jika ditanya: "Apa makna merdeka?"
Guru tersenyum, gajinya pun tak cukup belanja.


Maka datanglah seekor burung tua,
namanya Si Murai tua yang berkelana
Ia bernyanyi dari pohon paling tinggi,
lagunya pahit, nadanya sunyi:

"Negeri ini bukan rusak karena hujan,
tapi karena payung dijadikan lambang keimanan.
Negeri ini bukan gila karena musuh,
tapi karena topeng dianggap lebih suci dari wajah lurus."

Dan rakyat pun mendengarkan setengah percaya,
sebab telinga telah lama disewa.
Namun seorang anak bertanya polos:
"Apakah kita masih waras… atau hanya terbiasa?"

 hikayat zaman berguncang,
di mana kebodohan dijadikan tiang.
Yang jujur tersingkir, yang palsu disanjung,
dan negeri terus melaju — menuju jurang, sambil tersenyum.


Negeri melayu.

Yuang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"