Monolog jingga
Part/ll
Kini hari-hari tanpa kamu...
adalah hari-hari yang tetap bernama Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya,
tapi kehilangan warnanya.
Tak ada lagi perbedaan antara pagi dan malam,
karena rasanya semua waktu kini hanya satu:
waktu tanpamu.
Aku masih ingat betul hari kamu pergi—bukan secara tiba-tiba,
tapi seperti senja yang pelan-pelan menelan matahari.
Tak ada suara, tak ada ledakan,
hanya kesunyian yang semakin nyata.
Dan saat kusadari,
aku sudah sendirian di dalam dunia yang dulu kita bangun berdua.
Sejak itu, setiap hari terasa seperti ruang tunggu yang tak berujung.
Aku menunggu... entah apa.
Mungkin keajaiban.
Mungkin kamu.
Mungkin versi diriku yang bisa benar-benar menerima bahwa kamu tak lagi di sini.
Pagi-pagi terasa asing.
Kopi yang dulu kau racik dengan canda,
kini hanya cairan pahit yang kuteguk demi rutinitas.
Tak ada lagi diskusi tentang rencana akhir pekan,
tak ada pelukan terburu-buru sebelum kau pergi,
tak ada “jaga diri baik-baik” yang biasanya ringan,
tapi sekarang beratnya seperti beban yang tak bisa kupikul sendiri.
Dan anehnya...
dunia tak berhenti.
Langit tetap cerah.
Anak-anak tetap tertawa di jalan.
Orang-orang tetap jatuh cinta, seperti kita dulu.
Seolah kehilangan bukan sesuatu yang besar.
Seolah aku seharusnya sudah bisa melepaskanmu.
Tapi bagaimana?
Bagaimana cara melepaskan seseorang
yang namanya masih tinggal di sela-sela doa?
Hari-hari tanpamu membuatku tahu,
bahwa rindu bisa jadi rumah yang menyiksa.
Aku tinggal di dalamnya,
menyentuh dinding-dindingnya yang dingin,
dan berharap suatu saat, kamu membukakan pintunya—
sekadar untuk bilang bahwa kamu juga merindukan aku.
Tapi kamu tak pernah datang.
Aku mulai menyibukkan diri.
Membaca buku yang dulu kamu suka,
menonton film yang kita tunda-tunda,
mendatangi tempat-tempat yang pernah kita lewati.
Bukan untuk mengenang,
tapi mungkin... untuk mencoba berdamai.
Tapi kedamaian itu tak pernah benar-benar tiba.
Karena di mana pun aku berada,
aku selalu merasa… kamu seharusnya ada di sana.
Teman-temanku bilang,
ini semua hanya fase.
Katanya, waktu akan menyembuhkan luka.
Tapi mereka lupa bilang,
bahwa waktu tak akan pernah bisa mengembalikan apa yang telah hilang.
Dan cinta yang pernah tumbuh begitu dalam,
tak bisa mati begitu saja.
Kamu tahu,
bahkan dalam diam, kamu masih hadir.
Dalam lagu yang tiba-tiba terputar.
Dalam aroma hujan pertama.
Dalam senyum orang asing yang entah kenapa,
menggunakan kata-kata yang dulu sering kamu ucapkan.
Dan aku bertanya-tanya,
apakah kamu juga seperti aku?
Menangisi hal-hal kecil yang mengingatkan pada kita?
Atau kamu sudah benar-benar pergi,
bukan hanya dari dunia ini,
tapi juga dari pikiranku yang tak bisa berhenti memanggil namamu?
Malam-malam terasa lebih panjang sekarang.
Aku sering berbicara sendiri,
mengucap kata-kata yang dulu kutahan karena takut merusak kebahagiaanmu.
Kini, semuanya keluar begitu saja:
penyesalan, harapan, rasa bersalah, dan cinta yang tak pernah selesai.
Seperti surat yang tak pernah sempat kukirimkan padamu.
Seperti pelukan terakhir yang tak pernah kita beri.
Hari-hari tanpamu…
telah mengajarkanku bahwa cinta tak selalu harus bersama.
Bahwa kehilangan bisa jadi bentuk paling jujur dari mencintai.
Dan bahwa aku tetap bisa hidup, meski rasanya… tidak lengkap.
Tapi jika suatu saat, entah bagaimana caranya,
kita bertemu kembali—di mimpi, di langit, di tempat yang tak bisa dijelaskan,
aku harap kamu tahu satu hal:
Aku masih mencintaimu.
Bukan dengan harapan,
bukan dengan keinginan untuk memiliki kembali,
tapi dengan ketulusan yang diam-diam tumbuh…
di tengah hari-hari tanpamu.
#selesai
Selat malaka
10.10.2025
Yuangπ§
Komentar
Posting Komentar