Kemenangan yang Diam-Diam



Aku tidak merayakan apa pun hari ini.

Namun di dadaku,

ada ruang yang akhirnya terasa tenang,


Aku menang 

bukan karena mampu melupakanmu seketika,

melainkan karena berhenti menaruh harap

pada pintu yang tak lagi terbuka.


Keikhlasan datang perlahan,

seperti senja yang menurunkan cahaya

tanpa meminta malam cepat akan tiba.

tidak menghapus ingatan,

hanya mengajarkanku

cara menyimpannya dengan tenang.


Jujur aku pernah mencintaimu

dengan seluruh yang kupunya.

Dan itu tidak salah.

Yang salah hanyalah

meminta tinggal

pada sesuatu yang sudah lama pergi.


Hari ini aku berdiri

tanpa menyebut namamu di doa-doa yang panjang.

Bukan karena namamu hilang,

melainkan karena hatiku

tak lagi menggantungkan hidup

pada satu arah lagi.


Inilah kemenanganku:

ketika aku mampu tersenyum

tanpa menoleh ke belakang,

ketika aku bisa berjalan

tanpa membawa beban yang sama.


Jika suatu hari ingatan tentangmu singgah,

aku akan menyambutnya

seperti tamu lama—

dikenang,

lalu dilepas pulang dengan sapa an sederhana,


Aku menang

karena aku memilih pulang

kepada diriku sendiri.

Dan di sana,

aku belajar bahwa mencintai

tidak selalu berakhir dengan memiliki,

tetapi selalu bisa berakhir

dengan keikhlasan.


Kini aku melangkah

dengan ritme yang lebih pelan.

Ada pagi yang terasa ringan,

ada juga malam yang masih panjang.

Namun aku tidak lagi melawannya.

Aku duduk bersama dingin yang di balut sunyi,

membiarkannya bekerja

dengan caranya sendiri.


Sungguh ,

Aku tidak menutup cerita kita.

Aku hanya tidak lagi membacanya

setiap hari.

Biarlah ia menjadi bagian cerita epilog

dari perjalanan,

Namun bukan lagi tujuan.


Namun bila suatu hari

aku kembali mencintai lagi,

aku ingin mencintai tanpa takut kehilangan,

tanpa menahan yang ingin pergi,

tanpa melupakan diriku sendiri.


Kini kemenanganku yang paling sunyi:

aku tetap utuh

meski melepaskan yang paling kucintai.

Aku tetap berjalan

meski pernah berhenti terlalu lama.


Dan hari ini aku merayakan kemenangan,

bukan karena hatiku tak pernah terluka,

melainkan karena aku memilih

untuk tidak tinggal

di tempat yang sama..


#Tertanda 

Ruang &waktu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"