Ikhlas Dan Kenangannya

 Nanti

Nanti, ketika waktu mempertemukan kita lagi

di persimpangan yang tak pernah kita rencanakan,

semoga kita sudah tahu cara tersenyum

tanpa harus menyembunyikan sisa luka

yang dulu kita rawat diam-diam.

Mungkin kita hanya akan saling sapa,

sederhana… tanpa gemetar yang dulu berlebihan,

tanpa pertanyaan yang pernah tertahan di dada.

Hanya dua orang yang pernah saling tinggal,

lalu berjalan menjauh dengan cara paling sunyi.

Nanti, jika kita duduk di tempat yang sama,

biarlah tak ada lagi “seandainya”,

tak ada lagi hitungan tentang yang hilang,

atau siapa yang lebih dulu melepaskan.

Karena pada akhirnya,

kita hanya dua cerita yang pernah bertemu,

lalu selesai tanpa benar-benar pamit.

Cukup dikenang sebentar—

bahwa pernah ada “kita”

yang begitu penuh, begitu hidup,

yang pernah percaya bahwa segalanya akan lama,

meski akhirnya tak sempat utuh.

Dan jika rindu itu datang lagi,

biarkan ia sekadar lewat,

seperti angin yang singgah tanpa ingin menetap,

menyentuh sebentar,

lalu pergi tanpa meninggalkan gaduh.

Nanti, mungkin kita akan lebih dewasa,

lebih pandai menyembunyikan perasaan,

atau justru lebih jujur menerima

bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki.

Dan jika suatu saat mata kita bertemu lagi,

tak perlu kata-kata panjang,

cukup satu tatap yang mengerti:

kita pernah menjadi rumah,

meski akhirnya saling kehilangan arah.

Nanti…

ketika kita benar-benar menjadi asing,

semoga satu hal tetap tinggal—

bahwa kita pernah saling mencintai,

dengan cara yang paling sederhana, paling jujur,

meski tidak selamanya,

meski hanya sebentar,

tapi pernah… begitu berarti.

____________________________________________

                            Epilog

Pada akhirnya, tidak semua cerita butuh akhir yang sempurna

untuk bisa disebut indah.

Ada yang hanya singgah sebentar,

mengubah banyak hal,

lalu pergi tanpa benar-benar bisa kita tahan.

Dan kita… pernah ada di bagian itu—

bagian yang tidak panjang,

tapi cukup untuk membuat hati belajar

tentang mencintai dan merelakan, sekaligus.

Maka jika suatu hari ingatan itu kembali,

biarkan saja.

Tak perlu dilawan, tak perlu dipanggil pulang.

Karena yang pernah berarti,

tidak harus selalu dimiliki lagi.....


                                                Tapaktuan

                                              Ruang Waktu

                                                  


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"