Waktu yang salah
Cinta ini datang seperti hujan di musim kemarau—tak pada waktunya, namun tak bisa kuhindari membasahi jiwa yang kering. Aku mencintaimu dalam waktu yang salah, ketika hatimu sudah terikat pada lain, dan aku hanyalah bayang yang berdansa di tepian kisahmu.
Seperti bintang yang bersinar di langit pagi, cahayaku tak pernah cukup terang untuk menembus gelap hatimu yang telah kau bagi pada orang lain. Aku adalah senja yang datang terlambat, hanya mampu menyisakan rona merah yang fana sebelum malam menelan segala.
Waktu berjalan tanpa kompromi. Ia membawamu pergi dalam pelukan yang bukan untukku, sementara aku terjebak dalam lingkaran waktu yang patah, mencintai seseorang yang tak bisa kugenggam. Seperti kapal yang berlabuh di pelabuhan yang salah, aku terdampar dalam laut perasaan yang tak bertepi, menunggu ombak yang tak pernah membawa kabar.
Rasanya seperti musim yang terbalik—ketika bunga bermekaran di musim dingin, dan daun gugur di musim semi. Aku mencintaimu dengan cara yang tak sesuai musim hatimu, dan karenanya, cintaku harus tersembunyi dalam bisu dan jarak.
Aku ingin berkata, “Tunggulah aku,” tapi aku sadar, waktu tak pernah menunggu siapa pun. Ia terus melangkah, meninggalkan aku dan cintaku di tempat yang berbeda. Aku hanya bisa mengukir namamu dalam cerita yang tak pernah berujung, sebuah puisi yang tak pernah selesai dibaca.
Mencintaimu adalah pelajaran tentang kesabaran dan melepaskan. Sebuah lagu sunyi yang hanya kudengar sendiri, sebuah doa yang terbisik di antara hembusan angin yang berlalu.
Dan di waktu yang salah ini, aku belajar bahwa mencintai bukan soal memiliki, tapi soal menghormati waktu dan ruang yang telah kau pilih.
09 Oktober 2025
Yuangπ§
Komentar
Posting Komentar