MENCINTAI DALAM DIAM
Untuk Nona, yang Menjadi Rahasia
Nyonya…
Kau adalah doa yang saya bisikkan di sepanjang malam,
di antara kesunyian yang bahkan bayangan pun enggan bersuara.
Bersama bintang dan purnama menggambar cahaya di langit yang terbentang
saya menitipkan harap agar semesta menyembunyikan isi hati
dalam kiasan asa,
bersama embun yang menggigil di ujung daun pagi.
Nyonya di pintu ini, saya menutup rapat segala rahasia—
menatap pohon yang tak pernah tahu apa itu rasa.
Di sudut kamar kecil yang mengayumi sunyi
saya menyulam asa tak pernah selesai,
dengan nyonya,
sebagai tokoh utama dalam setiap diksi yang tersesat di ujung bait.
Duhai nyonya waktu telah menua, dan saya tetap di sini—
menyimpan rahasia di balik tembok yang terlalu kokoh untuk dirobohkan.
Dengan tatap malu-malu enggan menjelma kata,
sapa yang terhenti di ujung napas,
rasa yang terpenjara dalam diam yang semangkin tua.
Saya membisukan melodi ,
namun diam-diam mengagumi mu dalam seribu bahasa.
Biarkan tabir hati membuka misteri tanpa suara—
karena sejatinya, cinta terus memanah,
mengikis rindu tampa kata punah
Sekeping asa masih mengapung di permukaan jiwa,
menyisakan resah yang tak pernah tenang.
Dan semesta, entah kenapa, ikut terdiam—
menyelamkan rahasia ini jauh ke dasar ruang yang sepi.
Untuk seorang nyonya, yang menjadi rahasia saya
besok, atau mungkin lusa, nyonya bisa saja pergi—
tanpa sempat menoleh, tanpa sapa.
Apakah kau akan kembali, nyonyaa,
saat kota ini tak lagi kita kunjungi?
Saya menulis ini sebagai bukti:
jika doa itu kelak diijabah
akan saya kabarkan pada seisi bumantara
bahwa saya pernah mendamba kamu—
dalam diam yang tak pernah kehilangan bahasa.
Namun bila doa itu tak sampai pada pemiliknya,
biarlah tulisan ini menjadi tempat naungan saya.
Bahwa pernah ada harap
untuk mu yang tak tahu,
tentang bagaimana rasa ini menua dalam yang diam diam.
Selat Malaka, 10 Oktober 2018
Yuangπ§
Komentar
Posting Komentar