Aku merindu berpunggut sendu
Aku Merindu Dalam Sendu
Aku merindu…
dalam sendu yang berdiam di pelukan malam,
ketika gelap begitu mencekam dan sunyi menua tanpa suara.
Saat itu, hatiku berbisik lirih —
tentang rindu yang tumbuh diam-diam
untuk seorang wanita jauh di pulau seberang.
Di antara bintang yang menabur cahaya,
langit tampak begitu lembut memeluk rembulan;
seperti tatapan matamu yang teduh,
yang setiap kali terlintas,
menumbuhkan rindu paling halus dalam dadaku.
Ketahuilah, kasih —
setiap hembusan angin timur yang dingin
selalu membawa namamu bersama desirnya,
seolah semesta tahu
bahwa aku tengah merindu dengan seluruh sisi diriku.
Untukmu,
tak ada kata yang cukup dalam buku harian hidupku
untuk menuliskan betapa aku mencintaimu.
Namun percayalah,
akan kupastikan cinta ini terukir di waktu
yang tak pernah jemu berputar.
Meski jarak dan waktu menjadi pemisah,
rasa ini tak akan pernah pudar —
ia tetap, seperti fajar yang selalu datang
setelah malam panjang yang enggan pergi.
Dalam kesunyian ini aku menanti,
menyulam harapan tentang pertemuan kita,
agar kisah kita kelak dikenang
sebagai cerita epik dalam sejarah cinta:
bahwa engkau bukan sekadar kekasih,
tapi dunia tempat jiwaku bernaung,
tempat kutemukan bahagia
setelah sekian lama terombang-ambing dalam luka.
Terima kasih, cinta,
atas hangat yang kau beri;
dan maaf,
bila aku belum mampu menjadi seperti yang kau inginkan.
Namun sungguh —
aku selalu berusaha menjadi yang terbaik
dari setiap harapmu.
Tetaplah bersamaku,
mengukir kisah abadi di lembar waktu,
karena di ujung hidup dan segala doa,
namamu adalah akhir dari segala amin ku.
Aku sangat mencintaimu…
— yuangπ§
Komentar
Posting Komentar