Anatomi dari sayatan lara
Malam ini,
langit jatuh perlahan ke dadaku.
Bintang-bintang terurai menjadi serpihan kaca,
menyayat lembut setiap ingatan
yang pernah kusembunyikan di balik nadi.
Ada desir samar di antara napas,
seperti doa yang tersesat,
mencari rumah di reruntuhan hatiku sendiri.
Setiap helaan terasa seperti menelan belati,
dingin, sunyi, tapi begitu jujur.
Kau tahu, luka punya bahasanya sendiri—
ia berbicara lewat diam,
menulis elegi di permukaan kulit,
dan menggantungkan makna pada setiap denyut
yang masih berani bertahan.
Aku pernah mencintai cahaya,
tapi kini hanya bayangan yang menemaniku tidur.
Ia berbaring di sisiku,
mendekap dengan tangan tak kasat mata,
mengajarkan bahwa kesepian pun bisa hangat
jika dibiarkan cukup lama.
Sayatan lara itu tumbuh,
seperti bunga hitam di dasar jiwa.
Aromanya getir—
campuran antara rindu dan penyesalan
yang tak pernah punya arah pulang.
Dan di antara segala kehancuran yang manis ini,
aku menemukan keindahan aneh:
bahwa sakit pun bisa jadi altar,
tempat aku berdoa pada kehilangan
yang kupeluk terlalu erat.
Biarlah dunia menatapku dengan mata dingin,
sebab aku telah belajar
bahwa dari darah pun bisa tumbuh puisi,
dan dari hancur pun bisa lahir bentuk yang lebih indah.
Maka aku biarkan semuanya mengalir—
pelan, seperti tinta hitam di kertas yang basah.
Biarlah namamu larut di situ,
bersama serpihan jiwaku yang tersisa,
menjadi satu kalimat panjang
tentang cinta yang tak pernah selesai ditulis.
22.maret.2024
Tapaktuan
Yuang
Komentar
Posting Komentar