Syair Penggembala di Padang Jiwa
🌿 Syair Penggembala di Padang Jiwa
Aku gembala di padang sunyi,
Rumputku doa, dombaku nurani,
Setiap langkah di tanah rahasia,
Adalah zikir yang terhembus tanpa suara.
Di ufuk batin terbit cahaya,
Bukan mentari, tapi rahasia,
Yang menyinari setiap luka,
Menjadikannya taman makrifat yang fana.
Kambing-kambingku berlarian di hati,
Ada yang liar, ada yang suci,
Ada yang kubujuk dengan sabar,
Ada yang kutuntun dengan air mata yang tawar.
Aku belajar bahwa gembala sejati,
Tak sekadar menjaga ternak di bumi,
Tapi menjaga batin agar tak haus,
Ketika dunia meminum cahaya nya.
Tongkatku bukan kayu yang tua,
Melainkan dzikir yang kupahat dari dosa,
Setiap pukulannya ke dada sendiri,
Mengusir duri yang tumbuh di hati.
Kadang aku berhenti di tepi padang,
Memandang langit yang tak berpagar terang,
Kukatakan pada angin yang lewat perlahan,
“Bawalah rinduku pada Yang Tak Terjangkau tangan.”
Malam datang bagai jubah kasih,
Menyelimuti lelah tanpa berbisik,
Di balik sepi kutemukan wajah,
Yang tak tersentuh, tapi selalu dekat di dada pasrah.
Tiap bintang bagai mata cinta,
Memandangku dari langit fana,
Dan aku — gembala kecil yang hina,
Terasa diawasi oleh Cahaya yang tiada rupa.
Aku menggembala bukan untuk hidup,
Tapi untuk mati dalam makna yang lembut,
Sebab hidup hanyalah padang waktu,
Tempat domba-domba berkeliaran mencari pintu.
Dan bila fajar datang dari dalam diri,
Kukembalikan semuanya pada Ilahi,
Rumput, angin, kabut, dan suara,
Semua lenyap dalam satu nama: Dia.
Maka kusebut lagi dalam bisu,
“Wahai Kekasih, wahai Cahaya yang satu,
Jangan biarkan aku menggembala terlalu jauh,
Sebelum Kau jadikan aku, gembala dan gembala-Mu.”
---
Ukiran senja
Komentar
Posting Komentar