Di akhir kalimat tak jadi salam

Ada kata yang berhenti di bibir,

menggantung di antara napas dan keberanian.

Ia tidak salah,

hanya lahir di waktu yang tak lagi memberi tempat.


Aku menulis pesan yang tak kukirim,

menghapusnya lagi,

lalu menulis ulang dalam bentuk puisi.

Setiap barisnya menatapku balik,

seolah berkata:

“mengapa kau masih di sini,

menunggu sesuatu yang tak lagi pulang?”


Kau tahu,

diam pun bisa jadi bentuk komunikasi.

Aku diam bukan karena tak punya kata,

tapi karena terlalu banyak yang ingin disampaikan

dan tak satu pun pantas didengar.


Malam-malam jadi saksi bagaimana aku berpura-pura lupa,

tapi doa tetap menyebut namamu tanpa sadar.

Lucunya,

Tuhan pasti sudah bosan mendengar nama yang tak seharusnya lagi kusebut,

tapi tetap kusembunyikan di balik kalimat:

“semoga ia baik-baik saja.”


Aku berjalan di trotoar kenangan,

di mana langkahku masih tumpang tindih dengan bayanganmu.

Kota tetap bising,

tapi di dalam diriku ada sunyi yang tumbuh seperti hutan belantara; bahka hewan saja engan untuk tinggal.


Aku mulai mengerti,

bahwa beberapa perpisahan tak butuh sebab,

hanya keberanian untuk mengaku:

kita tak lagi sama,

dan itu pun sudah cukup untuk menyakitkan.


Kau selalu pandai bersembunyi di balik logika,

sementara aku sibuk menambal perasaan dengan kata “tidak apa-apa.”

Padahal, kita berdua tahu,

itu hanya cara paling puitis untuk berkata “aku masih peduli.”


Dan saat aku mencoba menata ulang kisah,

aku sadar—

kita tidak benar-benar usai,

hanya berhenti bicara dengan cara yang lebih sopan.

Seperti dua huruf terakhir dalam kalimat yang tak jadi titik.


Kau masih ada di udara,

di sisa aroma kopi pagi,

di pantulan jendela tempat cahaya dan kenangan bertabrakan.

Aku masih di sini,

menyapu puing yang kau tinggalkan sendiri,

berusaha tampak utuh di hadapan hari yang tetap berjalan.


Lucu, ya?

Kita berdua terlalu pintar menata alasan,

tapi lupa bahwa hati tidak butuh logika—

ia hanya butuh keberanian untuk mengakui siapa yang benar-benar dirindukan.


Dan aku,

aku masih menatap huruf-huruf yang gagal jadi pesan,

seperti seseorang yang takut mengetik selamat tinggal,

karena tahu:

setelah itu, tak ada lagi yang bisa disalahkan kecuali diri sendiri.



---


Epilog:


Tak semua perpisahan berawal dari kata “selamat tinggal.”

Beberapa hanya berhenti di titik-titik yang terlalu panjang.

Dan mungkin di situlah kita

masih mencoba menyusun kalimat,

di ujung pesan yang tak pernah jadi salam.



17_03_2024

03.00 wib

Tapak tuan

Oleh : Yuang🧭

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"