Doa dari balik luka

Telah lama aku berjalan

dengan langkah yang tak lagi punya arah.

Setiap detak menjadi gema dari masa lalu,

setiap napas terasa seperti serpih waktu

yang perlahan meluruh dari tubuhku sendiri.


Malam menua di mataku,

dan sunyi menggulung namamu seperti ombak terakhir di tepi kesadaran.

Aku tak lagi memanggilmu dengan suara,

karena suara telah kehilangan maknanya—

yang tersisa hanya getar halus,

seperti doa yang tak sengaja terlahir dari retakan dada.


Aku duduk di antara reruntuhan yang lembut,

reruntuhan yang masih hangat oleh kenangan.

Darah yang dulu mengalir karena cinta,

kini menjadi tinta

yang menulis kisah tentang bagaimana manusia belajar menyerah

tanpa berhenti berharap.


Jangan salah,

aku tidak ingin sembuh.

Ada keindahan di balik luka yang tak tertutup,

karena di sanalah cahaya belajar mengenal bentuknya sendiri.

Duka, rupanya, bukan kutukan—

ia adalah guru yang lembut,

yang mengajarkan bagaimana mencintai tanpa memiliki.


Malam ini aku berdoa,

bukan untuk kesembuhan,

melainkan untuk pengertian.

Agar setiap nyeri menemukan maknanya,

dan setiap kehilangan tahu mengapa ia harus terjadi.


Aku berdoa kepada sesuatu yang tak bernama,

mungkin Tuhan, mungkin waktu,

mungkin hanya gema hatiku sendiri yang tersisa.

Aku berkata:

"Bila harus sakit, jadikan aku indah di dalamnya.

Bila harus hancur, jadikan kehancuranku berguna bagi yang lain."


Dan dari balik luka,

aku mendengar jawaban samar—

bukan dengan kata,

tapi dengan keheningan yang hangat.

Seolah semesta menepuk pundakku

dan berbisik:

"Sudah, tenanglah. Kau telah cukup berdarah untuk disebut hidup."


Aku menutup mata.

Di dalam kegelapan itu,

aku melihat diriku sendiri,

tidak utuh, tidak sempurna,

namun damai.

Ada cahaya kecil di dalam luka—

bukan untuk menyembuhkan,

tapi untuk menuntun.


Mungkin inilah arti pulang:

bukan kembali ke tempat semula,

melainkan menerima bahwa kehilangan pun

adalah bagian dari rumah.


Dan jika kelak seseorang membaca elegi ini,

biarlah ia tahu—

bahwa di balik setiap luka,

ada doa yang bergetar pelan,

menyebut nama cinta

dengan cara yang hanya dimengerti oleh sunyi.



26.maret.2024

Tapaktuan 

Yuang🧭




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"