Konservasi Badut Aplikasi”



Di layar-layar kecil itu,

negeri mendirikan kebun binatang digital,

di mana badut-badut aplikasi dipelihara

sebagai spesies hiburan paling lestari.


Mereka menari dengan algoritma,

tersenyum pada sinyal,

dan menangis dalam mode pesawat.

Setiap swipe adalah tepuk tangan,

setiap like adalah tali kendali.


Mereka dilatih untuk tertawa

di atas reruntuhan logika,

berpantun di atas luka sosial,

menjual empati versi filter cerah,

menawarkan kesedihan yang bisa diunduh.


Lihatlah—

mereka bukan lagi manusia,

melainkan emoji bergerak,

yang diciptakan untuk membuat lupa

bahwa kenyataan sedang sekarat.


Konservasi jenis ini aneh:

kebodohan dijaga seperti pusaka,

kebohongan diberi sponsor,

dan setiap wajah palsu

mendapat penghargaan “konten inspiratif”.


Di bawah lampu sorot data,

badut-badut itu disembah oleh jempol-jempol,

yang tak sadar sedang menandatangani

kematian nalar mereka sendiri.


Dan di pojok server yang sunyi,

tawa mereka menggema tanpa arti—

sebuah konser tanpa penonton sejati,

hanya pantulan diri sendiri,

yang tak lagi tahu

mana topeng, mana wajah mereka sendiri.



---15 Februari_2025

Oleh: Yuang🧭


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"