''Mendung di balik mata yang pernah hujan''
”
Pernah suatu masa,
kau adalah pagi yang menetes lembut di jendela hatiku—
hangat, jujur, dan sederhana.
Kata-katamu adalah embun yang jatuh di antara doa,
menenangkan luka, menumbuhkan keyakinan.
Tapi kini,
setiap kalimat darimu terasa asing,
seperti bahasa yang lupa pada artinya sendiri.
Kau berubah,
perlahan, nyaris tanpa suara—
seperti matahari yang beringsut ke barat tanpa sempat berpamitan,
seperti laut yang menelan riak tanpa alasan.
Aku masih di sini,
melihat ke arahmu yang kian jauh dan
bertanya,
apakah yang membekukanmu: waktu, luka, atau aku?
Tatapanmu kini bagai cermin es,
jernih tapi tak lagi memantulkan hangat.
Senyummu, yang dulu menyalakan ruang-ruang gelap di dadaku,
kini hanya bayangan tipis di balik kabut.
Kau menjelma jarak yang dingin,
jarak yang tak lagi ingin dijembatani.
Setiap langkahmu menjauh,
meninggalkan gema yang terdengar seperti perpisahan
yang tak diucapkan dengan kata.
Aku rindu caramu dulu berbicara—
bukan isi kalimatnya,
tapi nada lembut yang membuat dunia terasa bersahabat.
Kini, suara itu tumpul, datar,
seperti angin utara yang tak lagi mengenal arah pulang.
Kau menatapku tanpa benar-benar melihat,
dan aku tersenyum tanpa benar-benar bahagia.
Di antara kita, ada sesuatu yang retak,
bukan pecah, renggang yang terlalu sunyi
yang membelah perlahan setiap kali kita berpura-pura baik-baik saja.
Aku ingin bertanya, tapi takut jawabanmu adalah diam,
karena diam darimu kini lebih tajam dari pisau,
lebih dingin dari salju yang menutup jalan pulangku.
Kau dulu api yang menyalakan harapan,
kini kau menjadi salju yang menidurkan perasaan.
Dan anehnya, aku tetap di sini,
menghangatkan diriku dengan kenangan,
meski aku tahu:
kenangan pun bisa membeku
jika terlalu lama disimpan tanpa sapa.
Malam-malamku kini belajar tenang,
tanpa menunggu pesan yang tak akan lagi datang,
tanpa berharap hangat yang tak lagi kembali.
Aku belajar menerima,
bahwa beberapa hati tak berhenti karena benci—
kadang, mereka hanya lelah untuk mencintai.
Maka biarlah kau tetap menjadi musim dingin,
yang dulu pernah menjadi musim semi dalam hidupku.
Aku takkan memaksa matahariku kembali dari balik salju,
aku hanya akan berdiri di sini,
menatap langit yang abu-abu,
sambil berbisik pada waktu:
terima kasih,
karena telah mengajarkanku,
bahwa bahkan kehangatan paling indah pun bisa berubah menjadi dingin—
dan aku tetap bisa bertahan.
19.maret.2024
Tapaktuan
Yuangπ§
Komentar
Posting Komentar