sebatas mengagumiπŸŒ™



πŸŒ™ Mungkin Kini Aku Hanya Akan Sebatas Mengagumi Saja


Mungkin kini,

aku hanya akan diam di sudut yang tak terlihat oleh matamu —

menjadi bayang samar di antara riuh dunia yang melingkupimu,

menyembunyikan namamu di balik senyum yang kupaksakan,

agar tak ada yang tahu,

bahwa di balik tenangku,

ada rindu yang masih menatapmu perlahan dari kejauhan.


Pernah,

aku berharap jarak bukanlah penghalang,

melainkan jalan pulang bagi dua hati yang rindu.

Namun waktu,

selalu punya cara mengajarkan yang berbeda:

bahwa tidak semua yang kita perjuangkan akan menetap,

tidak semua rasa yang tulus akan berlabuh di tempat yang sama.


Kau tahu,

ada malam-malam yang terlalu panjang untuk dihabiskan tanpa mengenangmu.

Ada detik-detik yang terlalu berat untuk tidak mengingat suaramu.

Dan di antara itu semua,

aku belajar bahwa mengingatmu bukan kesalahan —

ia hanyalah bentuk lain dari mencintai dengan tenang.


Kini, aku hanya berjalan di antara kenangan,

menghitung langkah tanpa arah,

mendengar gema suaramu di antara desir angin yang membawa pesan lama.

Kadang aku tersenyum,

kadang aku hancur,

tapi keduanya sama-sama jujur,

karena keduanya lahir dari sisa-sisa cinta yang tak pernah sempat pulang.


Aku masih mengagumimu —

seperti laut yang mengagumi langit,

tanpa pernah benar-benar bersatu,

namun saling menatap di ujung cakrawala setiap sore yang meredup.

Kau tetap di sana,

jauh,

tapi indah,

dan aku tetap di sini,

memandangmu dengan mata yang penuh doa,

meski tak satu pun bisa sampai kepadamu.


Mungkin,

inilah bentuk paling dewasa dari rasa:

menyadari bahwa cinta bisa hidup tanpa harus dimiliki,

bahwa keindahan bisa dirawat tanpa harus digenggam,

bahwa bahagia kadang hadir bukan karena bersama,

tapi karena pernah merasa.


Aku akan tetap menulismu —

di antara bait-bait sunyi yang hanya aku yang mengerti,

di balik halaman buku yang takkan pernah kubuka di depan siapa pun.

Kisahmu akan jadi rahasia kecil antara aku dan waktu,

yang kadang memelukku lewat aroma hujan,

atau lewat sebaris lirik yang tak sengaja mengulang kenangan.


Dan bila suatu hari nanti kau membaca mataku —

mungkin kau akan tahu,

bahwa di balik tatap yang tenang itu,

pernah ada badai yang bernama dirimu,

yang kini perlahan reda,

bukan karena hilang,

tapi karena sudah kupelajari cara mencintaimu dengan lebih bijak.


Sebab,

tidak semua cinta harus bersatu,

tidak semua perasaan harus disampaikan.

Ada yang cukup disimpan,

dirawat dalam diam,

dan dibiarkan tumbuh menjadi doa yang lembut setiap kali namamu lewat di hati.


Maka biarlah begini saja.

Aku tetap di sini,

di titik yang tak pernah kau pandang,

mengagumimu dalam senyap,

mendoakanmu tanpa jeda,

dan membiarkan waktu mengajarkan

bahwa keikhlasan pun bisa seindah jatuh cinta.


Dan jika suatu saat nanti,

kau menatap langit yang sama,

ketahuilah —

di balik luasnya biru itu,

ada seseorang yang masih menyebut namamu dengan lembut,

tanpa harap,

tanpa tuntut,

tanpa ingin memiliki,

hanya ingin menjaga rasa ini tetap hidup…

dalam cara yang paling sederhana:

mengagumi dari jauh.


(--lanjut bagian 2)


11.Oktober.2025

Tapaktuan

Yuang🧭



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"