"AKU INGIN BERHENTI"
Aku ingin berhenti.
Bukan karena letih, tapi karena tak ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan.
Segalanya sudah menjadi reruntuh — doa-doa yang patah di tengah jalan, harapan yang membusuk sebelum sempat tiba di tangan takdir. Aku ingin berhenti sebelum diriku sepenuhnya hancur menjadi debu kenangan.
Aku lelah menjadi tubuh yang terus berpura-pura hidup.
Setiap pagi, aku bangun hanya untuk menambal kekosongan yang semakin menganga.
Ada sesuatu dalam diriku yang mati perlahan, seperti lilin yang membiarkan dirinya padam tanpa sempat meminta tolong.
Aku ingin berhenti dari berpura-pura berarti, dari menulis tentang cahaya yang sudah lama tak kulihat.
Aku muak pada kata-kata yang berusaha menghibur diri sendiri,
pada kalimat yang selalu berakhir dengan “tidak apa-apa,”
padahal segalanya tidak baik-baik saja.
Aku ingin berhenti sebelum segala rasa berubah menjadi abu.
Sebelum wajah-wajah yang dulu hangat kini hanya menjadi siluet di kabut ingatan.
Sebelum suaraku sendiri terdengar asing di telinga malam.
Kadang aku berpikir, mungkin dunia memang tak butuh kehadiranku.
Ia akan tetap berputar, bahkan tanpa aku di dalamnya.
Langit akan tetap gelap, tapi bukan karena kehilangan satu bintang kecil yang padam diam-diam.
Aku ingin berhenti.
Tidak untuk disembuhkan, tidak pula untuk ditemukan.
Aku hanya ingin lenyap dengan tenang —
seperti kabut yang perlahan hilang sebelum fajar tahu bahwa ia pernah ada.
Dan bila akhirnya aku berhenti,
biarlah aku larut di antara kabut dan sunyi—
tempat di mana waktu tak lagi mengukur langkah,
dan nama tak lagi berarti apa-apa.
Mungkin di sana, aku akan menjadi sesuatu yang tak terlihat:
hembusan kecil di antara dedaunan kering,
atau suara samar yang lewat di celah mimpi orang-orang yang tak sengaja mengingatku.
Bukan sebagai siapa-siapa,
hanya bayangan yang pernah mencoba hidup terlalu dalam.
Aku ingin berhenti di ambang yang tak disebut,
di antara batas hidup dan lenyap—
di tempat di mana tubuh bukan lagi beban,
dan hati tak perlu menanggung arti.
Malam akan menelan sisa-sisa langkahku,
dan waktu akan menutup matanya sejenak,
seolah aku tak pernah benar-benar ada.
Jika esok ada yang menyebut namaku,
biarlah gema itu tak kembali.
Biarlah suaranya hilang,
seperti desir angin yang membawa serpih terakhir dari diriku—
menuju sunyi yang tak punya pintu pulang.
Di sanalah aku berhenti.
Bukan karena menyerah,
tapi karena akhirnya aku menemukan rumah:
tempat di mana segala kehilangan menjadi diam,
dan diam itu—akhirnya—menjadi satu-satunya yang bisa mengerti
Oleh: Ruang & Waktu
Komentar
Posting Komentar