RATAPAN IKHLAS YANG KELAM
Pada ratapan panjang di keheningan malam,
aku menemukan dirimu di dalam sela labirin waktu,
saat usaha dan upaya mencoba melupa kau yang ku namai rindu, tetapi semua menjadi gagal yang tidak pernah aku akui.
pada kau yang ku namai kerinduan,
ada pertanyaan melayang layang dalam pikiran ku yang lugu.
Apakah kau masih selembut dahulu?
Apakah kau masih sehangat dahulu?
Atau kah kata sayang kau beri tanda seru masi berlaku.
Disini aku masih menunggu walau terkadang tunggu ku ini tak berujung temu.
tetapi aku masi percaya yang kau katakan kala itu.
Datang akan masa pergi,
Tawa akan masa tangis, kalimat terakhir mu,
seperti senja menyambut malam.
Ikhlas katamu,
namun aku masih menunggu ikhlas itu datang menyambut dan menjeput ku pulang.
Karena aku percaya, merelakan yang pergi
pasti kembli,
Lebih dari apa yang kusadari.
Mungkin kata kehilanganmu sulit ku terima,
Rasa ikhlasku pun masih prematur,
Namun ada rindu ku eja atas namamu setiap malam.
Meski harus kembali ku paksa ingatan mengulang apa yang telah hilang.
Jika mencintaimu adalah kerinduan,
Maka biarkan cintaku mati dalam kenangan.
Jika ikhlasku tak juga mampu menerima kenyataan,
Maka biarkan sepanjang hidupku memilikimu meski hanya sekedar ingatan.
Dunia takkan tahu,
Mereka takkan mengerti,
Jadi biarlah aku yang selalu merayakan rindu ini seorang diri.
Meski bergelut sepi,
Meski harus merapalkan doa untukmu yang telah pergi,
Biarkan rindu dan kenangannya ku tanggung sendiri, meski harus melukai hati yang sudah lama mati.
Untukmu rindu ini masih ku agungkan di altar cinta kita.
Demi janji-janji yang jatuh berserakan di tepian perpisahan.
Namun kisah kita tetap ku puisikan sebagai kenangan yang tak bisa terlupakan.
Yuang 🧭& dy
Minggu 5 oktober 2025.
Komentar
Posting Komentar