Sebatas mengagumi☀️
---
π€ Bagian Kedua — Dan Akhirnya, Aku Belajar Melepaskan
Kini aku mengerti,
bahwa tidak semua yang hilang harus dicari,
tidak semua yang pergi harus kembali.
Ada yang cukup disyukuri karena pernah datang,
menyentuh sebentar,
lalu meninggalkan jejak lembut di sudut hati yang takkan pernah benar-benar hilang.
Waktu berjalan perlahan,
menyapu luka seperti ombak yang menenangkan pasir.
Nama yang dulu terasa berat di bibir,
kini menjadi doa yang ringan,
melayang bersama hembus angin pagi
tanpa lagi menyesakkan dada.
Aku tidak lagi menunggumu di ujung senja,
tidak lagi menatap langit untuk mencari bayanganmu.
Kini aku menatap langit karena aku ingin —
bukan karena aku kehilangan.
Dan dalam setiap biru yang terbentang,
aku mulai melihat diriku sendiri,
bukan lagi bayangan tentangmu.
Ada kedamaian yang tumbuh pelan,
seperti benih kecil di tanah yang dulu gersang.
Ia tak tumbuh karena dilupakan,
tapi karena diterima:
bahwa cinta memang tak harus memiliki,
bahwa keindahan tak selalu berarti kebersamaan.
Aku masih mengingatmu,
tapi tak lagi dengan perih.
Aku masih menyebut namamu dalam doa,
tapi tanpa air mata.
Aku masih menulis tentangmu,
tapi bukan karena rindu,
melainkan karena terima kasih —
atas rasa yang pernah mengajariku menjadi manusia yang lebih lembut,
lebih sabar,
lebih tahu cara mencintai tanpa harus menahan.
Kini, aku menatap ke depan,
menyambut pagi tanpa menoleh ke masa lalu.
Bukan karena aku melupakanmu,
tapi karena akhirnya aku mengerti:
aku dan kamu hanyalah dua musim
yang pernah saling singgah,
bukan untuk menetap,
tapi untuk saling mengajarkan arti sementara.
Dan jika suatu hari,
aku melihatmu berjalan di jalan yang lain,
dengan senyum yang bukan lagi untukku,
aku tahu aku akan tersenyum juga —
bukan karena pura-pura kuat,
tapi karena aku benar-benar ikhlas.
Kini aku tidak lagi ingin menggenggam,
aku hanya ingin membiarkan.
Biarlah semesta yang menjaga langkahmu,
biarlah waktu yang menuntunku pada arah baru.
Aku cukup menjadi kenangan kecil di hatimu,
seperti kamu yang menjadi pelajaran besar di hidupku.
Dan mungkin,
jika suatu saat takdir mempertemukan kita lagi,
aku akan menyapamu dengan damai,
bukan dengan rindu,
tapi dengan hati yang telah sembuh sepenuhnya.
Karena cinta yang sejati,
bukan tentang siapa yang menetap paling lama,
melainkan siapa yang mampu pergi dengan tenang,
dan tetap mendoakan,
meski dari jauh.
Maka inilah aku —
yang dulu mengagumimu dalam diam,
yang kini melepaskanmu dengan tenang.
Bukan karena rasa itu hilang,
tapi karena akhirnya aku tahu:
bahwa mencintai tanpa memiliki
pun bisa menjadi bentuk paling indah dari setia.
(---lanjut bagian 3)
12.Oktober.2025
Tapaktuan
Yuangπ§
.
Komentar
Posting Komentar