APISTEL DARI CINTA YANG LELAH
--
''Surat dari Cinta yang Lelah"
Nona,
aku sudah membaca semua puisimu.
Kebanyakan terdengar sama:
tentang luka yang indah,
dan kepergian yang katanya penuh makna.
Lucu sekali—
kau menjadikan patah hati sebagai seni,
padahal yang rusak hanya seleramu terhadap kejujuran.
Kau memujaku,
tapi memperlakukan aku seperti mainan spiritual:
dipakai untuk membenarkan nafsu,
disalahkan ketika keinginanmu tak jadi nyata.
Kau sebut aku suci,
lalu kau gunakan namaku untuk menutupi pengkhianatan
yang kau rancang dengan kalimat lembut penuh elegi.
Aku tidak selembut kata-katamu di pesan malam nona.
Aku keras kepala, jujur, dan sering membosankan.
Aku bukan kembang api—aku bara yang harus dijaga.
Tapi kau lebih suka ledakan sesaat
daripada cahaya yang bertahan lama.
Nona,
aku bosan menjadi alasan untuk kebodohanmu.
Kau bilang cinta membuatmu buta—
padahal itu pilihanmu untuk menutup mata.
Kau bilang cinta itu gila—
padahal kau sendiri yang mencampur aduk ego dengan perasaan,
lalu menamainya “perjuangan.”
Kau mencariku di tiap beranda, di tubuh hangat, di layar kaca,
padahal aku sering duduk diam di dalam kesetiaan kecil
yang kau abaikan karena tidak estetik.
Kau mengejarku seperti pahlawan,
padahal yang kau inginkan hanyalah penonton untuk tragedimu.
Aku melihat mu dari jauh,
berdebat di dunia maya tentang arti “tulus,”
sementara di dunia nyata,
kau membandingkan siapa yang lebih cepat melupakan.
Sungguh ironis—
kau berteriak “aku cinta kamu!”
tapi berbisik “aku harus tetap punya cadangan.”
Kau membangun kuil untukku,
bernama relationship goals,
dengan altar dari foto berdua dan doa yang dikurasi.
Lalu kau menyembah rasa,
tapi takut pada komitmen—
karena cinta tanpa drama terasa terlalu sunyi untuk dijual.
Nona,
aku tidak marah, aku hanya kecewa.
Aku dulu datang untuk menumbuhkan,
tapi kau menjadikanku kompetisi prlari an
Aku dulu sederhana:
saling menatap, saling bertahan.
Kini aku kompleks:
ada strategi, evaluasi, dan perbandingan dengan masa lalu.
Tapi aku masih di sini,
di balik setiap luka yang benar-benar tulus,
di sela dua tangan yang masih berani menggenggam,
tanpa menuntut.
Aku tidak pernah hilang,
aku hanya sembunyi dari keramaian yang memanggil namaku teramat bising.
Nona jika suatu hari kau ingin menemuiku,
jangan bawakan puisi, jangan bawakan doa.
Datanglah dengan diam.
Sebab aku adalah doa yang amin nya kau abaikan.
---22.januari.2019
Oleh: Yuangπ§
Komentar
Posting Komentar