"Terimaksihku untuk mu ibu πŸ’™

"Ibu,

engkaulah senja yang lembut memeluk bumi,

mengajari langit bagaimana caranya merelakan matahari pergi

tanpa kehilangan hangat.

Dari pandanganmu, aku belajar arti ikhlas,

dari diam-mu, aku mengerti bahwa cinta tak selalu perlu suara.


Aku terlahir dari doamu yang tak henti berlayar

menembus malam-malam panjang yang dingin dan sunyi.

Dari ujung sajadahmu, hidupku tumbuh—

seperti benih yang disirami sabar,

dipeluk dengan air mata yang tak pernah kau adukan pada siapa pun.


Ibu,

dalam setiap langkahku yang gagap,

aku mendengar gema lembut dari suaramu,

membisikkan: “Jangan menyerah, Nak.”

Kata-katamu bukan hanya nasihat,

melainkan suluh yang menerangi jalan,

bahkan ketika dunia seakan memadamkan semua cahaya.


Engkau menanggung hujan agar aku belajar menari di bawahnya,

engkau menahan lapar agar aku belajar berbagi kenyang.

Betapa banyak luka yang tak terlihat di balik senyummu,

betapa banyak letih yang kau sembunyikan di antara tawa kecilmu.

Namun tak sekalipun aku melihat engkau berhenti mencinta.


Ibu,

terima kasih bukan kata yang cukup untuk mengukur pengorbananmu,

namun biarlah aku menulisnya dalam setiap helaan napasku:

terima kasih atas tangan yang menghapus air mataku,

atas doa yang menjadi sayap di setiap langkahku,

atas pelukan yang tak pernah menuntut kembali.


Jika surga benar ada di telapak kakimu,

maka biarkan aku menjadi debu yang tinggal di sana—

menetap, tak ingin berpaling dari kasihmu yang abadi.

Engkau adalah nadi dari setiap keberanianku,

madah dari setiap doa yang kupanjatkan,

dan rumah dari segala pulang yang kucari.


Ibu,

andai waktu bisa kubeli,

aku ingin kembali ke masa kecil

sekadar memelukmu lebih lama,

mengucap “terima kasih” tanpa terburu-buru,

menatap wajahmu sebelum kerut menulis kisah panjang perjuanganmu.


Kini, setiap malam aku berdoa:

semoga Tuhan memberi istirahat pada lelahmu,

menukar setiap air mata dengan taman yang damai,

dan menjaga setiap detak jantungmu

sebagaimana engkau menjaga hidupku sejak pertama kali aku menangis.


Sebab engkau, Ibu,

adalah keabadian yang menjelma manusia—

sinar yang tak pernah padam,

bahkan ketika dunia berhenti berputar.



---

31.juli.2022

Selat malaka

Yuang🧭





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"