"Walau hanya sepintas lalu"

tak perlu lama, tak perlu kata yang indah,

cukup sepintas lalu,

seperti bayang burung yang melintas di langit senja,

seperti angin yang mengusap wajah lalu pergi

tanpa sempat kutangkap arah datangnya.


Aku tak meminta hatimu,

tak memohon langkahmu untuk menetap di sisiku,

aku hanya ingin sekejap waktu,

satu lirih tatap yang mampu menyalakan

api kecil di tengah malamku yang dingin.

Sebab terkadang, satu sapa sederhana

lebih berarti dari seribu penjelasan yang datang terlambat.


Pernah, aku menunggu di tepian senja,

menggenggam bayanganmu seperti memegang pasir—

setiap helai kenangan lolos di antara jari,

namun tetap kutahan,

seolah aku bisa menahan waktu yang berlari.

Aku tahu, kau telah jauh,

tapi rindu ini bodoh,

ia masih menoleh setiap kali angin menyebut namamu.


Sapalah aku, walau dengan diam,

walau hanya lewat tatapan yang singkat dan gugup,

karena aku ingin tahu,

bahwa aku tak sepenuhnya hilang dari jejak langkahmu.

Biarlah aku menjadi titik kecil di matamu,

tak penting, tak berarti,

asal aku tahu—aku masih ada, walau sejenak.


Lihatlah aku dari jauh,

sebelum langkahmu menyatu lagi dengan arus dunia,

biar ada sedikit waktu

untuk menenangkan hati yang masih belajar ikhlas.

Aku tak menagih cinta yang pernah gugur,

aku hanya rindu rasa hangat yang dulu sederhana:

sapa yang jatuh seperti embun di subuh hari,

dingin, tapi menenangkan.


Malam-malamku masih kerap mengulangmu,

seperti lagu lama yang tak bisa dihentikan.

Ada nama yang kupeluk di antara doa,

bukan untuk dimiliki,

hanya agar ia tak lenyap begitu saja.

Dan bila suatu saat kau lewat lagi,

di jalan yang sama,

di udara yang pernah kita bagi,

biarlah angin yang berkata untukku:

“di sini, masih ada hati yang senang disapa walau sebentar.”


Sebab tak semua pertemuan butuh janji,

tak semua sapa menuntut balasan.

Kadang, hanya ingin diingat sedikit saja—

agar hidup terasa tidak sesepi yang kukira,

agar aku tahu, di antara banyak wajah yang kau temui,

aku pernah menjadi satu yang kau pandang,

walau hanya…

sepintas lalu. 🌧️


29.maret.2023

Tapaktuan

Oleh:Yuang🧭



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog jingga

ELEGI FATAMORGANA

Monolog "Di Antara Janji yang Menggantung"