Ketika Rindu Belajar Tenang
Aku terbangun pukul tiga dini hari.
Sunyi masih menutup langit, seolah dunia belum ingin sepenuhnya sadar.
Tak ada suara, hanya detak jam yang berjalan lembut di dinding,
mengingatkanku bahwa waktu terus melangkah, bahkan ketika hati ingin diam.
Aku duduk tanpa tujuan, membiarkan udara dingin menyentuh wajahku.
Ada sesuatu yang menenangkan dalam kesunyian seperti ini—
seperti berbicara dengan diriku sendiri tanpa kata,
hanya dengan rasa yang samar, yang datang entah dari mana.
Di luar jendela, bulan terbalut awan tipis.
Cahayanya redup, tapi cukup untuk membuat bayangan di lantai.
Aku menatapnya lama, dan di antara cahaya itu, entah kenapa, aku melihatmu.
Bukan wajahmu, bukan sosokmu—hanya bayangan dari segala yang dulu kita percakapkan,
yang kini tinggal gema di antara ruang dan waktu.
Aku mencoba tersenyum,
meski bibirku lebih sering bergetar daripada benar-benar mengangkat sudutnya.
Rasanya aneh… betapa tenang dan sakit bisa berjalan berdampingan.
Ada bagian dari diriku yang masih ingin menggenggammu,
dan bagian lain yang mulai mengerti: beberapa hal tak diciptakan untuk kembali.
Malam ini aku tidak berdoa agar kau pulang.
Aku hanya berdoa agar kenangan tentangmu bisa menetap dengan cara yang lembut,
tanpa menyakiti, tanpa menuntut.
Seperti angin yang lewat di pipi—dingin, tapi tidak melukai.
Tiga dini hari adalah waktu yang jujur.
Semua hal yang bersembunyi di siang hari muncul perlahan:
rindu, kehilangan, dan semua kata yang dulu tak sempat diucapkan.
Aku mendengarkan semuanya, tanpa berusaha menolak.
Mungkin inilah yang disebut ikhlas—bukan melupakan,
tapi membiarkan yang pernah ada, tetap hidup di tempatnya masing-masing.
Aku menatap ke langit lagi,
dan untuk sesaat, aku merasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih luas, lebih tenang.
Bahwa mungkin, di antara jutaan jiwa yang sedang tidur,
ada satu yang juga terbangun seperti aku,
dan sedang mengingat seseorang—
seperti aku sedang mengingatmu.
Udara dini hari mulai berubah.
Cahaya subuh perlahan menyentuh tepi langit,
dan aku tahu, sebentar lagi dunia akan kembali ramai.
Tapi sebelum itu terjadi,
aku ingin diam sejenak lagi di sini—
bersama rindu yang sudah tak lagi menyakitkan,
bersama kenangan yang kini terasa seperti teman lama.
Aku memejamkan mata, dan dalam hati berbisik pelan:
“Terima kasih, untuk segala yang pernah menjadi hangat.”
Karena kadang, cinta tak harus kembali untuk tetap hidup.
Ia cukup ada, di antara jam tiga dini hari dan ketenangan yang tak bernama.
Selat malaka
Tapaktuan.04 november 2025
Ruang Waktu🕯
Komentar
Posting Komentar