KETIKA WAKTU MENYEBUT NAMA MU
🎙️ Intro / Pembukaan
Di suatu senja yang tak bernama,
dua hati saling mencari tanpa tahu arah.
Langit menjadi saksi —
bahwa cinta kadang tidak berawal dari pertemuan,
melainkan dari getar halus yang tumbuh dalam diam.
Ada rindu yang tak disebutkan,
ada doa yang hanya dipahami oleh langit,
dan di antara keduanya —
ada dua jiwa yang menunggu waktu untuk saling menyebut nama.
Ini bukan kisah tentang memiliki,
bukan pula tentang kehilangan,
tetapi tentang dua manusia
yang belajar mencintai dengan cara paling lembut:
tanpa syarat, tanpa akhir.
Maka dengarkanlah —
inilah kisah hati yang tak sempat terucap,
tapi hidup di antara napas,
di antara jeda,
dan di antara kata…
“Ketika Waktu Menyebut Namamu.”
______________________________
(Lelaki)
Aku menemuimu bukan di keramaian dunia,
tapi di antara jeda napas waktu yang berhenti sesaat.
Ada cahaya kecil di matamu,
dan entah mengapa seluruh semesta tiba-tiba terasa sunyi.
Aku tak tahu, apakah itu pertemuan,
atau sekadar takdir yang sedang berbisik pelan di telingaku.
Kau berjalan, seperti doa yang lupa disebutkan,
namun tiba-tiba dikabulkan begitu saja.
Sejak itu, aku tahu,
setiap detak di dadaku mulai menyebut satu nama — namamu.
(Perempuan)
Aku menyapamu bukan dengan suara,
tapi dengan diam yang menyala di ujung pandang.
Kau hadir seperti hujan pertama di bulan yang kering,
menyentuh tanah hatiku yang lama retak.
Aku ingin mendekat,
tapi takut waktu akan mencairkan semuanya menjadi kenangan.
Ada yang tak perlu dijelaskan,
seperti caramu menatap,
seolah semesta sedang belajar mengeja makna cinta.
(Lelaki)
Aku pernah menunggu banyak senja,
dan semuanya berwarna sama — pucat, tak bernyawa.
Tapi ketika kau datang,
matahari di dalam diriku kembali terbit,
menerangi ruang-ruang sepi yang dulu kusangka telah mati.
Aku pernah berjanji tak lagi jatuh cinta,
namun di bawah tatapmu, janji itu gugur seperti daun musim lalu.
Aku tak ingin menahan apa pun lagi,
sebab di matamu,
aku menemukan rumah yang tak pernah kutemukan di dunia manapun.
(Perempuan)
Dan aku yang dulu takut mencinta,
perlahan belajar percaya pada hangatmu.
Bukan karena janji,
tapi karena caramu menenangkan tanpa berkata apa-apa.
Kau hadir seperti angin yang tahu kapan harus diam,
kapan harus menyentuh lembut pipi yang basah oleh rindu.
Di hadapanmu aku belajar,
bahwa cinta bukan tentang menemukan yang sempurna,
melainkan menerima yang datang dengan sepenuh hati.
(Lelaki)
Kadang aku memandangi langit dan berpikir,
mungkinkah dua hati bisa berjumpa di ruang yang tak bernama?
Mungkinkah rinduku menjelma menjadi angin
dan menyentuh pipimu dari kejauhan?
Aku percaya,
setiap kali aku menyebut namamu dalam diam,
ada getar halus yang sampai di hatimu,
meski dunia sedang berisik menolak sunyi.
(Perempuan)
Aku pun percaya,
karena setiap kali aku memejamkan mata,
aku mendengar langkahmu di antara detik yang lembut.
Ada bisikan di dada,
yang berkata bahwa cinta ini tak pernah pergi,
hanya berpindah bentuk —
menjadi doa yang tak berhenti tumbuh.
(Lelaki)
Kau adalah keheningan yang paling hangat,
keindahan yang tidak memerlukan warna.
Dari tatapmu aku tahu,
bahwa segala luka yang pernah kujalani
akhirnya punya tempat untuk pulang.
(Perempuan)
Dan kau adalah nada yang membuat sunyiku bernyanyi.
Kau tidak menjanjikan apa pun,
tapi kehadiranmu saja sudah cukup
untuk membuatku percaya
bahwa cinta bisa tetap lembut
meski dunia terus berubah arah.
(Lelaki)
Jika waktu nanti memisahkan kita,
aku tidak akan menyesal.
Sebab pernah, di tengah luasnya hidup ini,
aku mencintai seseorang dengan sepenuh sadar — dirimu.
Cinta yang tidak menuntut balasan,
hanya ingin dikenang oleh semesta.
(Perempuan)
Dan jika aku tak lagi di sisimu,
ingatlah — aku pernah memilihmu,
bukan karena kau yang paling indah,
tapi karena dalam dirimu, aku menemukan tenang.
Namamu adalah tempat aku menaruh setengah ragaku
dan seluruh keyakinanku.
(Lelaki)
Kau adalah doa yang kusebut bahkan saat bibirku diam.
Kau adalah alasan mengapa aku masih percaya,
bahwa mencintai seseorang
adalah cara paling lembut untuk pulang ke diri sendiri.
(Perempuan)
Dan kau adalah ketenangan yang tak pernah kutemukan di tempat lain.
Aku belajar darimu,
bahwa cinta bukan tentang memiliki,
melainkan tentang memahami,
dan tetap tinggal, bahkan ketika dunia menjauh.
Jika cinta adalah perjalanan,
biarlah kita menjadi langkah-langkah kecil yang saling menuju.
Tak perlu janji, tak perlu akhir,
cukup rasa yang tak berhenti bergetar
setiap kali nama itu disebut dalam doa.
Tiada ibarat dalam mencintaimu,
dan tiada umpama dalam menyayangimu.
Sebab engkau bukan sekadar perasaan,
melainkan makna dari setiap napas yang berani mencinta tanpa alasan.
(Lelaki)
Dan meski waktu nanti melupakan segalanya,
aku tidak akan pernah lupa akan satu hal.
(Perempuan)
Apa itu?
(Lelaki)
Bahwa aku… sangat mencintaimu.
(Perempuan)
Dan aku… juga sangat mencintaimu.
🌷 Tamat.
05_Agustus_2023
Selat Malaka.
Ruang Waktu
Komentar
Posting Komentar