Surat Kecil Tentang Diri Dan Sepi
Adapun batin itu,
tiadalah ia bersuara,
melainkan bersemayam
di antara napas dan diam.
Ia tiada memanggil,
tiada pula mengusir;
hanya menanti
seperti tanah menanti hujan.
Maka di dalam batin
segala luka berdiam,
tiada meminta disirnakan,
hanya hendak diakui
bahwa ia pernah menjadi bagian.
Rindu pun demikian adanya—
ia menetap tanpa arah,
menjadi senyap
yang setia.
Adakalanya diri menjadi letih,
langkah pun berat,
namun batin tetap tegak
bagai rumah tua
yang telah lama berdamai
dengan hujan dan angin.
Retaknya tak lagi diratap,
sebab ia telah mengerti
fungsi bertahan.
Ketahuilah,
hening bukanlah ketiadaan.
Ia ialah hamparan
tempat segala rasa
dititipkan agar tidak binasa.
Di sanalah kehilangan
belajar berdiam,
dan harap disimpan
tanpa janji.
Batin mengenal waktu
bukan sebagai kejar,
melainkan sebagai lintasan
yang harus dilalui
dengan tunduk dan sabar.
Ia mengajar kuat
tanpa gegap,
tabah tanpa sorak.
Di dalam dada,
duka menua seperti kayu,
rindu tinggal tanpa melukai,
dan harap menyala kecil
bagai bara
yang diselubung abu
agar tahan lama.
Ada masa
ketika diri tidak lagi
mengenal wajahnya sendiri.
Namun batin tiada pernah menolak—
ia senantiasa menyediakan ruang
bagi yang hendak pulang,
meski langkahnya pincang.
Maka aku memelihara batinku
seperti pelita uzur
di sudut jiwa:
tak terang sepenuhnya,
namun setia
menjaga sisa cahaya.
Dan kelak,
tatkala terang makin susut
dan jalan kian samar,
aku tahu ke mana kembali—
kepada hening
yang tiada mengkhianat,
kepada batin
yang sejak mula
menanti tanpa jemu.
01/12/2025
Tapak Tuan
Yuang
Komentar
Posting Komentar